Ketum PDNU: Kita Berada pada Kondisi Pandemic Fatigue!

PANDEMIC FATIGUE: Bonek rayakan ultah ke-94 Persebaya (kiri) dan perusakan pos penyekatan di Suramadu. | Foto: IST
PANDEMIC FATIGUE: Bonek rayakan ultah ke-94 Persebaya (kiri) dan perusakan pos penyekatan di Suramadu. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pos Penyekatan di kaki Jembatan Suramadu dirusak. Ribuan Bonek sebagian besar tanpa masker merayakan ulang tahun ke-94 Persebaya. Dua pemandangan miris dalam dua hari terakhir turut mewarnai meningkatnya wabah Covid-19 di Jatim, khusunya di Bangkalan, Madura.

Apa yang sebenarnya terjadi? “Kita berada pada kondisi pandemic fatigue (kelelahan akan pandemi),” analisa Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU), Dokter Muhammad S Niam kepada Barometerjatim.com, Sabtu (19/6/2021).

Semua orang, papar dokter yang juga anggota Endoscopic and Laparoscopic Surgeons of Asia (ELSA) tersebut, sudah capek secara mental sehingga bertindak semaunya dalam menghadapi pandemi ini.

“Para dokter dan nakes lainnya sudah pada tahap kelelahan akibat beban sangat berat dan kompleks. Bukan pelaku atau penyebab, bahkan sudah kekeringan ludah memberi penyuluhan, tapi menjadi yang paling bertanggung jawab,” katanya.

Elemen masyarakat lainnya, tandas Niam, juga capek menanti dan berharap dengan berhentinya roda kehidupan tanpa ada kepastian. Di sisi lain, pemerintah tidak lagi sanggup bertindak keras dan tegas menghadapi ketidakpedulian masyarakat dengan pembiaran.

Sudah begitu, menurut Niam, semakin diperparah dengan para pemimpin yang tidak mampu memberikan keteladanan, bahkan memicu ketidakpercayaan karena sikap dan perilakunya.

“Para pendusta tidak kunjung berhenti menjejalkan pembohongan publik dengan hoaks atau berita-berita sampah, didukung para buzzer yang sedang giat melawan kebijakan pemerintah dan orang-orang dungu yang gagap teknologi,” ujarnya.

Kondisi tersebut, ucap Niam, menyebabkan infodemi (kesalahan memahami dan bersikap terhadap pandemi) yang luas di kalangan masyarakat tanpa atau hanya sedikit sekali upaya kontra-narasi yang dibangun para pemangku kepentingan.

Di ujung analisanya, Niam menyebut setiap orang juga menjadi merasa pintar dengan pengetahuan sesat yang diterima dan disebarluaskannya. Maka semakin banyak orang berbuat kesalahan, baik sengaja maupun tidak dan saling menyalahkan.

“Yang salah tetap saja salah dan harus introspeksi serta belajar dari kesalahannya. Yang masih konsisten harus mencari cara dan solusi agar mudah dipahami,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona