Ketum IPHI: New Normal di Pesantren Bukan Barang Baru

RAPI: Menjaga kebersihan dan kerapian, salah satu ciri pesantren. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BERSIH DAN RAPI: Menjaga kebersihan dan kerapian menjadi salah satu budaya santri. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Secara bertahap, mulai 10 Juni Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi akan membuka kembali kegiatan pendidikan di pondok pesantren (Ponpes) jelang penerapan new normal di tengah pandemi corona (Covid-19).

Pro-kontra pun bermunculan. Termasuk Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) atau Asosiasi Pondok Pesantren (Ponpes) NU, yang meminta pemerintah tidak memaksakan jika memang belum siap.

Namun Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (DPP IPHI), Rahmat Santoso berpandangan lain.

Menurutnya, secara umum apa yang terkandung dalam konsep pesantren menuju new normal sebenarnya bukan hal baru dalam Islam.

Rahmat menyebut protokol pencegahan Covid-19 seperti mencuci tangan, memakai masker, bersin menutup mulut, hingga jaga jarak adalah konsep Islam life style.

“Memakai masker misalnya, mirip dengan cadar yang dipakai wanita mukminah. Cuci tangan, juga ada dalam wudhu. Menjaga wudhu sangat dianjurkan dalam Islam,” terangnya, Minggu (30/5/2020).

Selain itu, soal social distancing, dalam Islam juga sudah dianjurkan berkumpul harus memberi manfaat, tidak boleh yang berkumpul sia-sia apalagi yang membahayakan.

“Lantas, apa yang menjadi masalah pesantren tidak segera dibuka jika konsep new normal itu sudah bukan barang baru di Islam,” ujarnya.

Tiga Bulan Mati Suri

Rahmat menambahkan, selama ini kalangan Ponpes resah. Keresahannya sama, kapan santri-santri bisa berkumpul lagi dan pendidikan pesantren dimulai.

Sudah hampir tiga bulan Ponpes seperti mati suri setelah semua santri dipulangkan akibat pandemi, padahal jumlahnya tidak sedikit.

Menurut Rahmat, saat ini ada sekitar 28.194 Ponpes dengan sekitar lima juta santri mukim yang tersebar di seluruh Indonesia.

Jika ditambah santri non mukim bisa sekitar 18 juta jiwa. Belum lagi jumlah pengajar yang tak kurang dari 1,5 juta jiwa dan semua bersandar pada kehidupan pesantren.

“Tentu menjadi normal, jika banyak pertanyaan sampai kapan aktivitas pesantren ini terhenti,” ucap pria yang juga Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) MPC Pemuda Pancasila Surabaya itu.

Rahmat bisa merasakan apa yang dialami kalangan pesantren, karena dirinya masih kerap sowan dan berkumpul bersama para kiai dan ulama.

Meski demikian, Rahmat mengingatkan, pemerintah dan semuanya harus tetap hati-hati dalam menerapkan new normal di pesantren. Keselamatan santri dan para guru di atas segalanya.

Apalagi kondisi pandemi Corona di setiap daerah tidak sama. Ada yang sudah landai bahkan turun, tapi juga ada yang justru naik seperti yang terjadi di Jatim.

“Untuk itu, perlu berbagai persiapan agar memastikan pesantren benar-benar aman sebelum dibuka kembali,” kata Rahmat.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona, New Normal