Ketua Muslimat NU Surabaya Gagal Tembus Kursi Legislatif

Ketua Muslimat NU Surabaya, Lilik Fadhilah (kiri) gagal raih kursi legislatif. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Ketua Muslimat NU Surabaya, Lilik Fadhilah (kiri) gagal raih kursi legislatif. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Surabaya, Lilik Fadhilah gagal menembus kursi legislatif. Lilik maju Caleg lewat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk DPRD Surabaya dari Dapil I nomor urut 1.

Pada Pemilu 2019 ini, sesuai hasil rekapitulasi penghitungan suara KPU Surabaya, perolehan kursi PPP untuk DPRD Kota Surabaya sama dengan Pemilu 2014, tetap satu kursi dari Dapil 2, diraih Buchori Imron.

Terkait kegagalannya, Lilik mengklaim karena suaranya banyak yang hilang. “Lho yok opo lho, suoroku ilang di tengah jalan,” katanya saat dihubungi Barometerjatim.com, Kamis (9/5/2019) sore.

Suara hilang tersebut terjadi, menurut Lilik, disebabkan beberapa hal. Pertama, mayoritas pemilih dari warga Muslimat NU yang merupakan basisnya cenderung memilih Parpol ketimbang Caleg.

“Karena mayoritas warga Muslimat NU kan sepuh (tua). Ketika ditanya dia nyoblos partai, bukan calon. Lha ini suara larinya kemana? Kalau ke nomor besar, yang nomor satu kan enggak dapat apa-apa. Mestinya nomor urut juga ada artinya,” papanya.

Kedua, lanjut Lilik, banyak saksi yang lemah dan teledor karena harus bekerja hingga larut malam. Sehingga kelelahan yang berujung asal-asalan dalam mengawal suara. Mereka tak lagi menghiraukan mana form C1 yang asli dan palsu.

“Sudah tidak dihiraukan lagi mana C1 yang asli dan palsu. Tapi ketika direkap secara keseluruhan, banyak sekali form C1 yang palsu, foto copyan,” katanya.

“Lha itu dari mana kok bisa begitu (ada C1 palsu hasil foto copyan), kan pasti ada permainan di dalam sistem itu. Dari situ saja sudah tidak benar ya,” sambungya.

Uang Tetap Berperan

Selain itu, tandas Lilik, gerojokan uang yang memang masyarakat butuh juga tak bisa dihindari. Caleg yang punya modal besar bisa melakukan serangan senja, malam, ba’da, bahkan fajar.

“Setelah mengumpulkan foto copy langsung bagi-bagi duit, kan ada yang seperti itu. Ya gimana lagi, kondisinya masyarakat memang butuh, ya diterima,” ucapnya.

Jadi berapa suara yang dikumpulkan Lilik? “Kalau hitung-hitungan internal mastinya masih dapat 13 ribu ya, tapi katanya (dari hasil rekapitulasi KPU) tidak dapat,” ujarnya.

Sebenarnya, ada yang menyuruh Lilik untuk melakukan lobi-lobi agar bisa menembus kursi legislatif. “Tapi saya sudah mantapkan hati tidak akan perang dengan begituan,” tegasnya.

“Jadi menurut saya, sistem ini kan enggak terbuka, dicari celah masih bisa, sehingga yang incumbent ya mudah saja cari celah langsung nyebar duit,” tuntasnya.•

» Baca Berita Terkait Muslimat NU, Pemilu 2019