Gus Nur Kholis: Tak Ketum pun, Khofifah Pondasi Muslimat NU!

PERIODE KEEMPAT: KH Said Aqil Siroj saat melantik Khofifah sebagai Ketum Muslimat untuk periode keempat. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
PERIODE KEEMPAT: KH Said Aqil Siroj saat melantik Khofifah sebagai Ketum Muslimat untuk periode keempat. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – 25 November 2016. Waktu itu, Jumat dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Lewat arena Kongres XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Khofifah Indar Parawansa terpilih menjadi ketua umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) periode 2016-2021.

Itulah untuk periode keempat alias 20 tahun berjalan, perempuan yang kini menjabat gubernur Jawa Timur tersebut menakhodai badan otonom (Banom) perempuan NU.

Tiga bulan kemudian, 28 Maret 2017, Khofifah dan kepengurusannya dilantik Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

“Ini sudah keempat kali Bu Khofifah dilantik, memang tidak ada batasannya, ya?” kata Kiai Said kala itu saat berpidato usai pelantikan.

Kini, hampir lima tahun berselang, bersamaan jelang Muktamar ke-34 NU di Lampung, Desember mendatang, desakan regenerasi di NU dan Banomnya terdengar nyaring disuarakan sejumlah tokoh NU, termasuk Pengasuh Ponpes Metal Muslim Al Hidayah Pasuruan, KH Nur Kholis Al Maulani.

“Muslimat NU Butuh regenerasi. Regenerasi itu sangat penting di segala lini. Di Fatayat, Muslimat, terutama juga di NU-nya,” katanya, Selasa (12/10/2021).

Bukankah dengan dipimpin Khofifah yang kini menjabat gubernur Jatim dan seabrek kapasitas lainnya membuat Muslimat NU semakin keren?

“Bu Khofifah itu tidak harus menjadi ketua umum Muslimat pun, beliau tetap Muslimat. Jadi beliau sebagai pondasi Muslimat yang banyak dicontoh tokoh-tokoh Muslimat,” kata kiai muda yang akrab disapa Gus Nur Kholis tersebut.

“Artinya dengan regenerasi itu, tentunya memporsikan beliau akan lebih terhormat sebagai sesepuh Muslimat yang nantinya memberikan banyak ilmu kepada tokoh-tokoh selanjutnya,” sambungnya.

Bagi Gus Nur Kholis, tokoh yang berhasil adalah tokoh yang bisa menciptakan tokoh. Orang tua yang berhasil adalah orang tua yang bisa menciptakan pemimpin bagi anak-anaknya. Maka pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang bisa mencetak pemimpin-pemimpin baru.

Lagi pula, lanjutnya, kalaupun tak lagi dipimpin Khofifah karena jamiyah memang butuh regenerasi, Muslimat NU tidak akan tergoyahkan karena memang sudah luar biasa, termasuk soliditas jamaahnya. Tapi yang jelas, regenerasi itu sangat penting di segala lini.

Idealnya Dua Periode

PONDASI MUSLIMAT: Gus Nur Kholis, Khofifah tidak harus menjadi ketua umum pun tetap pondasi Muslimat NU. | Foto: IST
PONDASI MUSLIMAT: Gus Nur Kholis, Khofifah tidak harus menjadi ketua umum pun tetap pondasi Muslimat NU. | Foto: IST

Lantas, idealnya berapa periode seorang menjadi pemimpin? “Berdasarkan pendapat para imam, termasuk Imam al-Gazali dalam Ihya’-nya, pemimpin itu cukup dua periode saja. Pemimpin itu yang terbaik adalah dua periode, periode yang ketiga itu kurang baik sebetulnya,” katanya.

Dan waktu dua periode itu sudah bisa menciptakan pemimpin? “Harusnya menciptakan pemimpin. Pemimpin yang baik adalah ketika sudah ke luar tidak menjadi pemimpin, dia sudah menciptakan pemimpin-pemimpin baru, itu yang luar biasa,” ujarnya.

Kalau tidak bisa menciptakan pemimpin baru selama dua periode, apakah itu artinya gagal?

“Artinya gagal. Sebagaimana Rasulullah mampu menciptakan banyak pemimpin itu luar biasa. Jadi kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar sampai Muawiyah itu perlu dipahami di sana ada regenerasi yang terus-menerus,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Muslimat NU