Gus Nur Kholis: Masa Kiai Said Sudah Selesai, Cukup 2 Periode!

KIAI SAID CUKUP 2 PERIODE: Gus Nur Kholis, dukung regenerasi kepemimpinan PBNU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung. | Foto: IST
KIAI SAID CUKUP 2 PERIODE: Gus Nur Kholis, dukung regenerasi kepemimpinan PBNU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Desakan agar ada regenerasi ketua umum Pengurus Besar Nahdaltul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-34 mendatang mengalir deras. Kali ini disuarakan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Metal Muslim Al Hidayah Pasuruan, KH Nur Kholis Al Maulani.

“Ya, terkait dengan persiapan Muktamar NU yang akan digelar di Lampung ini, saya secara pribadi mendukung terhadap regenerasi kepemimpinan,” katanya kepada Barometerjatim.com, Selasa (12/10/2021).

Menurut kiai muda yang akrab disapa Gus Nur Kholis tersebut, regenerasi ini penting sekali karena sudah dicontohkan sejak zaman sahabat Rasulullah Saw.

“Kita melihat di zaman sahabat, bahwa Sayyidina Ali memiliki satu langkah yang luar biasa dalam rangka memperluas dan memperbesar syiar agama Islam. Karena zaman Sayyidina Ali berbeda dengan zaman Rasulullah dan para sahabat yang lain,” jelasnya.

Nah, dalam konteks NU, regenerasi ini sangat penting karena sekarang zaman milenial. Zaman yang membutuhkan pemimpin yang memahami proses perjalanan bangsa maupun perjalanan kader-kader NU yang sudah mulai berpkir maju.

“Karena itu, baik dari mulai tingkat PBNU sampai ke bawah, regenerasi sangat penting. Tentunya tidak meninggalkan kekuatan dan restu para sesepuh NU,” ujar Gus Nur Kholis.

“Jadi terkait dengan kesiapan muktamar di Lampung nanti, saya mendukung adanya pergantian kepemimpinan atau regenerasi kepemimpinan yang lebih memahami zaman saat ini,” tandasnya.

Apakah itu artinya KH Said Aqil Siroj cukup dua periode menjadi ketua umum PBNU? “Saya pikir sudah cukup, karena masanya Kiai Said sudah selesai. Kalau bicara masa adalah masa baru yang lebih memahami,” ujarnya.

Terlebih hingga kini di NU masih banyak kiai maupun pengasuh pesantren yang sevisi dan semisi dalam akidah yang sama-sama NU tapi mereka berada di ‘seberang jalan’, karena pemikiran mereka mungkin berbeda dengan pemikiran periode sebelumnya,” kata Gus Nur Kholis.

“Karena itu, untuk mengembalikan sahabat-sahabat kita, saudara-saudara kita yang ada di seberang jalan, saya pikir adalah regenerasi tokoh muda yang mumpuni untuk mengayomi segala lapisan,” katanya.

Masih Ada yang Tercecer

Apakah mereka yang di seberang jalan itu tidak sejalan dengan Kiai Said? “Ya, artinya pengurus NU sebetulnya, tokoh NU sebetulnya, lahir dari NU, mereka juga pengasuh pondok pesatren NU namun berada di garis yang berbeda,” kata Gus Nur Kholis.

“Seperti ada NU Garis Lurus, NU Khitthah dan segala macam. Mereka amaliahnya 100 persen NU, tapi tidak berada dalam satu barisan, satu naungan, satu payung,” tandasnya.

Hal itu terjadi, karena kepemimpinan saat ini tidak memahami karakter mereka. Makanya regenerasi menjadi sangat penting karena zamannya sudah berubah.

Insyaallah dengan perubahan regenerasi, saya yakin NU pada zaman keemasan dimana seluruh saudara-saudara kita yang tercecer akan kembali dalam satu wadah NU,” katanya.

Dari sekian kandidat yang muncul, termasuk KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), siapa yang anda jagokan untuk menggantikan Kiai Said?

“Saya tidak harus memilih si A, si B, tapi harus ada regenerasi. Kalau melihat si A, si B, tentunya saya akan berpihak kepada salah satu. Keputusan muktamar adalah keputusan terbaik, tetapi kita boleh memberikan satu pandangan bahwa regenerasi itu jauh lebih baik,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Muktamar NU