Gerindra: Prioritas Gus Hans Harusnya Tetap Merapat ke MA!

PILWALI SURABAYA: Bagiyon, harusnya Gus Hans tetap merapat ke Machfud Arifin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Bagiyon, harusnya Gus Hans tetap merapat ke Machfud Arifin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Belum final, tapi wacana duet Whisnu Sakti Buana-Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans yang dinilai merepresentasikan nasionalis-religius di Pilwali Surabaya 2020 kian menguat.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Sekretaris DPC Partai Gerindra Surabaya, Bagiyon menuturkan pilihan saat ini memang tinggal dua: Merapat ke Machfud Arifin (MA) bersama delapan Parpol (Gerindra, PKB, PPP, Nasdem, Golkar, Demokrat, PAN, dan PKS) atau berlabuh ke PDIP.

Bagaimana dengan Gus Hans yang sempat mengikuti penjaringan Gerindra? “Beberapa kali saya sarankan juga sih, kan tinggal sekarang merapat ke dua tempat, ke Pak MA atau ke yang lain,” kata Bagiyon kapada Barometerjatim.com, Selasa (14/7/2020).

“Kalau patronnya Gerindra kan Pak MA. Jadi sejauh mana komunikasi dia sampai hari ini kan gitu, tahu-tahu ada berita dia ‘nyeberang’ ke sana, ya itu hak politiknya dia gitu lho,” sambungnya.

Hanya saja, tandas Bagiyon, kalau Gus Hans yang juga salah satu wakil ketua di DPD Partai Golkar Jatim akhirnya mendampingi calon dari PDIP, tentu tidak bisa mengatasnamakan Golkar yang masuk koalisi MA. Tidak bisa pula mengatasnamakan rekomendasi Gerindra.

“Ya ini yang jadi permasalahan, karena dari awal dia melamarnya ke kita, sedangkan Gerindra sudah menentukan (untuk bakal calon wali kota) ke Pak MA,” ucap Bagiyon.

Jika perioritas Gus Hans adalah MA, apakah Gerindra sudah menyodorkan nama Gus Hans untuk mendampingi mantan Kapolda Jatim tersebut?

Menurut Bagiyon, semua Parpol yang tergabung dalam koalisi MA akan diberi kesempatan untuk mengusulkan nama walaupun hak prerogatif tetap di tangan MA. Tapi belum saat ini, perkiraannya akhir Juli atau awal Agustus.

“Nanti pada waktunya, pasti semua partai koalisi akan merekomendasikan nama untuk jadi wakil wali kota Pak MA,” paparnya.

Tapi kalau akhirnya Gus Hans berlabuh di PDIP, menurut Bagiyon sah-sah saja. Hanya kalau bisa prioritas tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) itu tetap merapat ke MA.

“Lho enggak ada masalah. Tapi kalau bisa, skala proritas pertama kan dia harus menghadap ke MA. Masalah misalkan tidak diminati MA, itu boleh, second line dia menyeberang ke sana,” katanya.

“Fatsun politknya kan seperti itu. Ya itu urusan pribadi kalau dia ditawari sebelah sana terus akhirnya cocok chemistry-nya. Itu persoalan lain itu, buat kita enggak ada masalah,” tandasnya.

Bagiyon juga mengaku belum tahu apakah Gus Hans diminati MA atau tidak, karena hingga kini Parpol koalisi memang belum waktunya menyodorkan nama calon wakil. Kalau sebatas lobi-lobi pribadi dengan pihak lain untuk menjajaki posisi wakil, boleh-boleh saja.

Jadi prioritas Gus Hans tetap merapat MA? “Lho ya harusnya seperti itu, karena Golkar gabung ke kita. (Tapi kalau maju bersama PDIP) harusnya tidak bersama Golkar, enggak lucu nanti gitu lho,” katanya.

“Dia bisa atas nama profesional, kiai, gus dan lainnya. Tapi setelah Musda saya tidak tahu arah Golkar, tetap membawa Gus Hans atau nama lain,” pungkas Bagiyon.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya