Minggu, 25 September 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Gaduh Wayang Berjenggot Digebuki, Pakar: Basalamah Harus Berterima Kasih pada Gus Miftah!

Berita Terkait

TURUT BICARA: Mochtar W Oetomo, Khalid Basalamah harus Berterima kepadfa Gus Miftah. | Foto: Barometerjatim.com/IST
TURUT BICARA: Mochtar W Oetomo, Khalid Basalamah harus Berterima kepadfa Gus Miftah. | Foto: Barometerjatim.com/IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Gara-gara pentas wayang di Ponpes Ora Aji miliknya yang menunjukkan dalang menggebuki ‘wayang berjenggot’ mirip sosok Ustadz Khalid Basalamah, Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah jadi sasaran bully di media sosial.

Gus Miftah dianggap berlebihan dalam merespons Basalamah soal ‘ceramah wayang haram’. Namun Pakar Komunikasi Politik, Mochtar W Oetomo berpandangan lain dengan menyebut Gus Miftah justru memberi ‘jalan keluar’ dan seharusnya Basalamah berterima kasih pada kiai yang mengislamkan Deddy Corbuzier itu.

“Jadi kegeraman publik yang berpotensi sosial agama terlampiaskan dengan adegan itu. Bayangkan kalau tidak ada pelampiasan semacam itu, bisa langsung lho. Bisa terjadi aksi kekerasan, kriminalitas langsung kepada yang bersangkutan,” katanya, Kamis (24/2/2022).

“Kalau menurut saya sebaliknya, justru Kalid Basalamah harus berterima kasih kepada Gus Miftah. Daripada dirinya sendiri yang dipukuli, kan mending wayangnya,” tandas Mochtar yang juga direktur Surabaya Survey Center (SSC).

Bukankah adegan menghajar ‘wayang berjenggot’ tersebut tontonan, apa tidak malah menjadi tuntunan yang tidak bagus bagi masyarakat?

“Betapa banyak film yang sadis, penuh kekerasan dan sebagainya, apakah penontonnya kemudian menjadi begitu? Kan justru terluapkan. Animal-nya itu kan malah terluapkan, ada medium katarsis-lah,” tegasnya.

Jangan dipikir, tandas Mochtar yang juga pengajar di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), praktisi kebudayaan Jawa, praktisi wayang tidak marah ketika Basalamah mengharamkan wayang.

“Marah besar, betul-betul marah. Di bawah itu karena saya membersamai mereka. Betul-betuil marah dan itu bisa menjadi aksi kalau tidak diwadahi Saya dekat dengan komunitas kebudayaan, jadi bisa merasakan emosi mereka,” kata pakar yang mantan dalang tersebut.

Marah karena wayang diharamkan? “Ya Iyalah. Sudah berapa ratus tahun Islam ada di Indonesia kok baru sekarang. Wong wayang itu menjadi bagian instrumen yang sangat penting untuk menyebarkan Islam, kemudian sekarang diharamkan oleh (elemen) Islam, itu kan ngeri banget, marah banget,” katanya.

Pada saat bersamaan, ucap Mochtar, tidak banyak pihak yang memikirkan nasib dalang, dunia wayang, malah diharamkan lagi. Ini namanya sudah jatuh diinjak-injak lagi.

“Jadi Basalamah harus berterima kasih pada Gus Miftah. Karena ini kalau terus berlanjut, tragedi pengusiran etnis dan sebagainya bisa saja terjadi. Kebencian yang menumpuk itu kan suatu saat pasti meledak ketika mendapat momentum, berbahaya,” ujarnya.

Lewat pentas wayang di Ponpes Ora Aji, Mochtar menilai juga bagian dari pesan yang ingin disampaikan Gus Miftah. “Kalau anda begini terus, kelompok ini begini terus, ini akan menjadi kenyataan. Pesan komunikasinya kira-kira seperti itu,” katanya.

“Jadi pesan yang ingin disampaikan Gus Miftah kan begitu: Berhentilah membuat kontroversi-kontroversi seperti ini. Masak jalan merunduk dikira menyerupai rukuk kemudian diharamkan,” imbuh Mochtar.

Gus Miftah sendiri sudah minta maaf atas kegaduhan yang terjadi, “Ok fine. Saya minta maaf atas kegaduhan yang terjadi, bukan karena nanggap wayangnya!” katanya di akun Instagram @gusmiftah.

DIGEBUK: Adegan wayang mirip sosok Khalid Khalid Basalamah dalam pentas di Ponpes milik Gus Miftah. | Foto: IST
DIGEBUK: Adegan wayang mirip sosok Khalid Khalid Basalamah dalam pentas di Ponpes milik Gus Miftah. | Foto: IST

» Baca berita terkait Mochtar W Oetomo. Baca juga tulisan terukur lainnya Roy Hasibuan.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -