Senin, 23 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Dinkes Jatim Bantah Ada Kasus Hepatitis Akut Misterius di Jatim: 114 Pasien Itu Kuning Akut!

Berita Terkait

WASPADA: Penyakit kuning ditandai dengan kulit dan bagian putih mata tampak kuning. | Foto: Dokter Sehat
WASPADA: Penyakit kuning ditandai dengan kulit dan bagian putih mata tampak kuning. | Foto: Dokter Sehat
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ramai soal 114 pasien suspek hepatitis akut misterius (acute hepatitis of unknown aetiology) di Jatim membuat Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, dr Erwin Astha Triyono melakukan klarifikasi.

“144 itu adalah sindrom jaundice atau kuning akut yang ternyata setelah diverifikasi, diklarifikasi, bahwa itu tidak terkait dengan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya,” katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (6/5/2022).

“Memang di Jatim beluam ada kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya tersebut,” tandasnya.

Bagaimana dengan data di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Jatim? Menurut Erwin, data itu hanya laporan awal karena SKDR bukan sebagai diagnosis pasien.

“SKDR sistem kewaspadaan dini, itu aplikasi menerima laporan, ada pasien yang dicurigai kuning,” ujarnya, sembari menegaskan ketika ada laporan di SKDR tim dari Dinkes Jatim langsung bergerak melakukan verifikasi.

Verifikasi terhadap penyakit kuning, kata Erwin, sangat penting. Sebab, gejala umum hepatitis akut misterius yakni penyakit kuning yang tampak pada mata dan kulit pasien terjangkit. Namun penyakit kuning belum tentu hepatitis dan masih harus dicari penyebabnya.

Sebelumnya, di Kantor Bakorwil Malang, Kamis (5/5) sore, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyatakan provinsi yang dipimpinnya tengah mewaspadai kejadian kasus hepatitis akut yang belum diketahui etiologinya atau penyebabnya.

Dia mengimbau seluruh masyarakat agar tidak panik, tetapi sigap melihat gejala yang ditimbulkan. Apalagi menurut data SKDR Jatim per 4 Mei 2022, di Jatim sudah terdeteksi 114 kasus terduga sindrom jaundice akut yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota.

Berdasarkan data yang ada, kata Khofifah, penyakit ini tidak menyerang kelompok umur spesifik meski cenderung mengalami kenaikan jumlah pada minggu ke-14 hingga ke-17.

“Maka semua orang, baik anak kecil maupun dewasa, harus punya awareness akan bahaya penyakit ini. Kita juga wajib gercep melihat gejalanya, karena semakin cepat ditangani, peluang untuk menghindari hal yang tidak diinginkan semakin besar,” ujarnya.

» Baca berita terkait Dinkes Jatim. Baca juga tulisan terukur lainnya Abdillah HR.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -