Kamis, 26 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

1.220 Orang di Jatim Diserang DBD, 21 Meninggal, Apa Upaya Khofifah?

Berita Terkait

MELONJAK: Belum sebulan, penderita DBD di Jatim mencapai 1.220 dengan 21 kematian. | Foto/Grafis: Barometerjatim.com/ROY HS
MELONJAK: Belum sebulan, penderita DBD di Jatim mencapai 1.220 dengan 21 kematian. | Foto/Grafis: Barometerjatim.com/ROY HS
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jatim melonjak. Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim per 1 hingga 27 Januari 2022, jumlah penderita tercatat 1.220 orang dengan jumlah kematian 21 orang (CFR = 1,7%) yang didominasi usia 5-14 tahun.

Jumlah tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat sebelumnya, 1 hingga 5 Januari 2022, jumlah warga yang terserang masih 69 orang tanpa ada kematian.

Dari 1.220 kasus di awal Januari 2022, jumlah penderita DBD tertinggi berada di Kabupaten Bojonegoro (112 orang). Disusul Kabupaten Malang (73), Ponorogo (64), Tuban (61). Sedangkan jumlah kematian DBD tertinggi yakni Pamekasan (3), Bojonegoro (2), dan Nganjuk (2 orang).

Angka ini meningkat bila dibandingkan Januari 2021, yang mencatat penderita DBD di Jatim sebanyak 668 orang dengan jumlah kematian 5 orang. Total penderita DBD di 2021 sebanyak 6.417 orang dengan jumlah kematian 71 orang (CFR = 1,1%).

Lantas apa upaya Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa? “Saya meminta masyarakat jangan panik tapi terus tingkatkan kewaspadaan terhadap ancaman DBD ini. Bahwa selain Covid-19, kita juga harus berbagi perhatian dan kewaspadaan dengan DBD,” katanya, Jumat (28/1/2022).

“Jadi ketika mengalami demam misalnya, selain Covid-19, kita harus mulai mempertimbangkan kemungkinan gejala DBD,” tandas gubernur yang juga ketua umum empat periode PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Khofifah menuturkan, pencegahan kasus DBD ini bisa dilakukan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. Meliputi, pertama, menguras (membersihkan) bak mandi, vas bunga, tempat minum binatang peliharaan, atau tatakan dispenser.

Kedua, menutup rapat Tempat Penampungan Air (TPA). Bagi TPA yg tidak mungkin dikuras atau ditutup, bisa berikan larvasida. Ketiga, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas seperti botol plastik, kaleng bekas, dan lainnya.

Menurut Khofifah, 3M Plus ini ditambah dengan upaya memberantas larva melalui pemberian Larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, memasang ovitrap/larvitrap/mosquitotrap. Selain itu, menghindari gigitan nyamuk dengan menanam pohon pengusir nyamuk, memakai kelambu, repelent/antinyamuk dan lain-lain.

Pencegahan dan penanganan masalah DBD ini, lanjut Khofifah, harus dilakukan mulai hulu sampai hilir. Serta diperlukan kerja sama dan sinergi seluruh pihak baik masyarakat, pemerintah, sampai dengan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan.

“Salah satu kunci keberhasilan penanganan DBD ini dimulai dari hulu, yakni bagaimana kita menerapkan 3M Plus di lingkungan kita masing-masing. Jadi bagaimana peran serta masyarakat untuk mencegah bagaimana agar nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD ini tidak berkembang biak,” jelasnya.

Khofifah juga meminta bupati/wali kota untuk selain meningkatkan kewaspadaan terhadap Covid-19 juga mulai mewaspadai DBD. “Terus lakukan pemantauan dan perkembangannya, juga terus siapkan sarana pelayanan kesehatan, tenaga dan logistik dalam upaya pengendalian penyakit DBD ini,” pungkasnya.

» Baca berita terkait Demam Berdarah. Baca juga tulisan terukur lainnya Abdillah HR.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -