Debu SIER Cemari Rungkut! PT Smart Tolak Jadi Penyebab

PENCEMARAN UDARA: Aksi warga di kawasan PT SIER terkait pencemaran udara dari sejumlah pabrik, Rabu (17/3/2021). | Foto: Barometerjatim.com/ANDRIAN
PENCEMARAN UDARA: Aksi warga di kawasan PT SIER terkait pencemaran udara dari sejumlah pabrik, Rabu (17/3/2021). | Foto: Barometerjatim.com/ANDRIAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – PT Smart Tbk menolak dugaan bahwa perseroan menyebabkan pencemaran udara di kawasan Rungkut Kidul, Surabaya.

Menurut Corporate Communications Executive, Group Corporate Communications, Beni Wijaya, hasil uji ilmiah awal yang dilakukan sebanyak dua kali menunjukan bahwa debu bukan berasal dari bahan bakar PT Smart.

“Otoritas terkait telah melakukan uji ilmiah lainnya dan kami masih menunggu hasilnya,” kata Beni dalam pernyataan tertulis kepada Barometerjatim.com, Kamis (18/3/2021).

PT Smart, lanjut Beni, menggunakan bahan bakar yang diatur dan diizinkan berdasarkan peraturan pemerintah. Selain itu, PT Smart juga aktif terlibat dalam mediasi dan kunjungan lapangan untuk menunjukkan bahwa perusahaan beroperasi secara bertanggung jawab.

“PT Smart berkomitmen terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja, serta masyarakat sekitar di sekitar wilayah operasi perusahaan,” tandasnya.

Beni menambahkan, audit rutin tahunan juga diadakan untuk memastikan bahwa operasi perseroan sesuai dengan hukum dan kebijakan yang berlaku di Indonesia.

“PT Smart di Surabaya telah memperoleh ISO 14001, dan Kementerian Lingkungan Hidup telah memverifikasi bahwa kualitas gas buang perusahaan memenuhi standar yang ditentukan hingga saat ini,” tuntas Beni.

Sebelumnya, Rabu (17/3/2021), sejumlah warga Rungkut Kidul melakukan aksi demonstrasi lantaran merasa tujuh bulan dicemari debu industri beberapa pabrik di kawasan PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER).

Dalam aksinya, selain berorasi, warga juga membentangkan sejumlah poster bertuliskan “Warga Menuntut Ganti Rugi”, “Janda Meningkat Gara-gara Debu”, serta beberapa poster tuntutan lainnya.

“Kami bisa mati bukan karena Corona, tapi karena limbah debu pabrik. Kalian enak-enak di dalam dapat gaji, tapi warga yang terima debunya,” teriak Sari Setiani, salah satu warga dalam orasinya dari atas mobil komando di depan gedung PT Johnson.

Demo yang dilakukan mayoritas ibu-ibu tersebut, digelar maraton sejak pagi di beberapa pabrik di kawasan Rungkut Industri dan berakhir di PT Sinar Mas (Smart).

Menurut Sari, aksi turun jalan ini merupakan puncak kekesalan warga karena hingga saat ini belum ada progres dari pihak PT SIER, selaku pengelola kawasan.

Padahal, DPRD Kota Surabaya sudah beberapa kali memanggil pihak terkait, dan menggelar hearing alias rapat dengar pendapat bersama warga.

Bahkan, Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono waktu itu, meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Satpol PP untuk mengusut tuntas pencemaran udara berupa debu industri di kawasan PT SIER.

Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Arif Fathoni juga mengatakan bahwa pihaknya telah menggelar hearing terkait pencemaran debu di PT SIER.

Menurutnya, PT Smart dan PT SIER telah mengungkapkan fakta-fakta terkait limbah debu yang berdampak kepada warga Rungkut Kidul.

“Yang paling penting didahulukan pemulihan-pemulihan setelah ada polusi udara itu,” ucap politikus Partai Golkar tersebut.

» Baca Berita Terkait DPRD Surabaya