Catat! Pakde Karwo Wariskan 5 Pemikiran Hebat untuk Jatim

Soekarwo dan Prof Masdar Hilmy, pemikiran orisinal dan otentik untuk Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Soekarwo dan Prof Masdar Hilmy, pemikiran orisinal dan otentik untuk Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

Dua periode jadi gubernur, Pakde Karwo melahirkan banyak pemikiran orisinal dan otentik. Legacy hebat buat Jawa Timur.

TAK banyak kepala daerah — terlebih gubernur — yang memiliki pemikiran orisinal dan otentik, sekaligus sukses mengaplikasikan untuk pembangunan wilayah yang dipimpinnya. Satu dari yang sedikit itu adalah mantan Gubernur Jatim dua periode, Soekarwo alias Pakde Karwo.

Pikiran orisinal Pakde Karwo juga sangat akademik, dan mendapat apresiasi tinggi dari tiga perguruan tinggi ternama yang menganugerahinya gelar kehormatan doktor honoris causa.

Ketiga kampus, yakni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk bidang ekonomi (22 Agustus 2015), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bidang pendidikan vokasi kerakyatan (28 Desember 2018), serta Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bidang pendidikan Agama Islam (27 Maret 2019).

Selebihnya, inilah lima pemikiran orisinal dan otentik khas Pakde Karwo dalam catatan Rektor UINSA Surabaya, Prof Masdar Hilmy:

1. Diskresi Policy

Satu pemikiran luar biasa progresif dari seorang gubernur yang risk taker, alias berani menanggung risiko secara cermat. Di saat gubernur di provinsi lain di Indonesia tidak ada yang bernyali melakukannya, Pakde Karwo berani mengambil risiko.

Diskresi policy itu diwujudkan, di antaranya terkait kewenangan perbaikan jalan nasional dan provinsi. Lalu soal suap dan pemerasan, agar masuk kategori pungutan liar sehingga tidak perlu ditangani KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Istilah diskresi policy ini, diyakni Masdar merupakan residu atau endapan akademik selama Pakde Karwo mempelajari ilmu hukum atau tata negara, terutama mazhab hukum progresif almarhum Prof Satjipto Rahardjo dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Jadi tidak ada di provinsi lain, selain Jatim, yang berani mengambil risiko menerjang peraturan perundangan, tetapi Pakde Karwo dengan argumentasi yang sangat solid bisa melakukannya lewat diskresi policy.

2. Inside Government

Ini juga otentik pemikiran Pakde Karwo. Masdar menceritakan, ada temannya saat mengambil S3 di Melbourne, Australia gagal mendapat gelar doktor bidang politik lantaran tidak mampu membangun argumentasi yang solid.

Menurut Masdar, temannya itu hendak mengajukan satu temuan baru, bahwa aspek non government atau LSM bisa juga muncul dari dalam pemerintahan. Namun dia tidak bisa mengajukan argumentasi yang solid, karena LSM pasti di luar struktur pemerintahan.

Tapi di Pemprov Jatim, Pakde Karwo bisa melahirkan inside government, yakni dengan menghadirkan LPPD (Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah) Jatim.

3. Spiritual Capital

Secara substantif, istilah yang dibangun Pakde Karwo ini berbeda dengan apa yang dikemukakan para ilmuan, terutama Dana Zohar dan lain-lain. Penguatan spiritual capital, salah satunya melalui peningkatkan kualitas pendidikan pesantren dan diniyah.

Selain itu juga dengan penguatan pendidikan vokasi di pesantren-pesantren. Lewat vokasi di pesantren, diharapkan akan meningkatkan daya saing dan kemandirian pesantren.

Menurut Masdar, ini sumbangsih yang sangat bermanfaat dan luar biasa nilai akademiknya untuk dunia pendidikan, pesantren, bangsa dan negara.

4. Dual Track

Dual track merupakan cara Pakde Karwo dalam meningkatkan kompetensi pelajar di Jatim. Sebagai langkah awal penerapan, saat masih menjabat gubernur, Soekarwo memberlakukan rasio 70 persen untuk SMK dan 30 persen untuk SMA.

Untuk SMK, Pemprov bekerja sama dengan perguruan tinggi dan perusahaan khususnya yang ada di Jatim. Sedangkan untuk SMA, madrasah aliyah, ula, dan wusto dalam pendidikan diniyah salafiyah diberikan pendidikan vokasional sehari dalam sepekan.

5. Pendidikan Vokasi

Pola ini menjanjikan keterampilan sebagai modal untuk meningkatkan daya saing Jatim, bahkan berhasil menurunkan angka pengangguran lulusan SMK dan meningkatkan kapasitas kerja di Jatim.

Peningkatan ini juga mampu melecut produktivitas kerja dan secara langsung meningkatkan daya saing, terutama dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi inklusif.

UINSA mengakui pendidikan vokasi sebagai pemikiran orisinal dan otentik Pakde Karwo, namun poin ini tidak dimasukkan ke dalam temuan pemberian gelar karena lebih dulu diambil UMM. Bahkan dijadikan pintu masuk pemberian gelar honoris causa untuk Pakde Karwo di Malang, 28 Desember 2018.

“Jadi kami, UINSA memberikan gelar doktor kehormatan atas minimal empat temuan akademik (di luar pendidikan vokasi) dari karya Pakde Karwo,” tandas Masdar. •

» Baca Berita Terkait Soekarwo, UINSA Surabaya