Tolak Gelar Doktor Soekarwo, UINSA: Apa Hak Mahasiswa?

Ma’shum Nur Alim (kiri), mahasiswa tak punya hak menolak gelar doktor Soekarwo. | Foto: Ist
Ma’shum Nur Alim (kiri), mahasiswa tak punya hak menolak gelar doktor honoris causa Soekarwo. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Rencana pemberian gelar doktor honoris causa ditolak mahasiswa, Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Ma’shum Nur Alim angkat bicara.

“Apa hak mahasiswa untuk menolak itu? Jika tuduhan sarat politis, sepanjang secara akademik memenuhi syarat, kenapa harus ada penolakan?” kata Ma’shum pada wartawan, Selasa (26/3/2017).

Ma’shum membantah kalau pemberian gelar tersebut ada nuansa politis. “Kalau bermuatan politis, kami akan memberikan gelar itu sewaktu beliau masih menjabat,” katanya.

Justru, tandas Ma’shum, “Kita hindari persoalan politis itu, dan kita berikan sekarang ketika sudah tidak menjabat sehingga kita betul-betul akademis.”

Saal alasan pemberian gelar, jelas Ma’shum, semata-mata karena menyangkut kontribusi Soekarwo di Jatim, tidak hanya UINSA. Termasuk kontribusi untuk pendidikan Islam lewat Madrasah Diniyah (Madin).

“Beliau punya jasa yang luar biasa untuk pengembangan guru-guru Pendidikan Agama Islam Madin di Jatim, dan di seluruh Indonesia tidak ada program seperti itu kecuali di Jatim,” terangnya.

Curigai Aktor Intelektual

Mahasiswa UINSA menggelar aksi menolak  gelar doktor honoris causa Soekarwo. | Foto: Ist
Mahasiswa UINSA menggelar aksi menolak gelar doktor honoris causa Soekarwo. | Foto: Ist

Menurut Ma’shum, out came pengembangan guru Madin sangat luar biasa dari yang tidak terurus hingga meraih gelar S1. Dengan kata lain, guru Madin memperoleh beasiswa melalui Kopertis.

“Di provinsi lain tidak ada, bahkan di tingkat nasional ketika disampaikan ke DPR mentah untuk memberikan penghargaan kepada guru Madin. Itulah yang kita apresiasi dari Soekarwo,” tandasnya.

Nah, mahasiswa, tegas Ma’shum, tidak terkait dan tidak memiliki kewenangan dengan hal tersebut. Secara institusi kampus memiliki lembaga pasca sarjana untuk kewenangan memberikan gelar doktor honoris causa.

Dia bahkan menduga ada aktor intelektual di balik aksi penolakan mahasiswa, karena apa yang dilakukan UINSA terkait pemberian gelar telah melalui prosedur yang tepat. “Saya tidak tahu siapa aktor intelektual di balik aksi ini,” imbuhnya.

Sementara menanggapi ancaman aksi lanjutan, Ma’shum menjawab hal itu hak mahasiswa untuk menyuarakan pendapat. Namun dia memastikan acara tetap berjalan sesuai agenda, dan SK penganugerahan gelar diberikan usai orasi ilmiah.•

» Baca Berita Terkait UINSA Surabaya, Soekarwo