Bara JP Jatim: Risma Bagus, tapi Jangan Antikritik dong!

RISMA JANGAN ANTIKRITIK: Giyanto Wijaya, Wali Kota Risma pemimpin bagus tapi jangan antikritik. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
JANGAN ANTIKRITIK: Giyanto Wijaya, Wali Kota Risma pemimpin bagus tapi jangan antikritik. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Barisan Relawan Joko Widodo Presiden (Bara JP) Jatim, Giyanto Wijaya memandang Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma tipe pemimpin yang bagus. Tapi sayangnya masih ‘alergi’ dengan kritik.

Hal itu ditunjukkan dengan reaksi sejumlah pejabat Pemkot Surabaya, yang begitu sibuk membantah pernyataan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa soal Gelora Bung Tomo (GBT) masih bau sampah.

Bara JP ini sudah lama berteman dengan Bu Risma, juga dengan Bu Khofifah. Tapi ya janganlah jadi pemimpin itu antrikritik. Masak dikritik sedikit saja, pasukannya begitu kencangnya, iya kan,” kata Giyanto pada Barometerjatim.com, Rabu (6/11/2019).

Tegasnya Risma masih antikritik? “Ya iyalah!” sergahnya. “Kalau memang bau sampah, ya kenyataan bau sampah GBT kan. Ya monggo ditangani bersama, duduk bersama. Cari solusi, jangan cari musuh, intinya gitu!”

Apalagi Risma, menurut Giyanto, sangat diharapkan bisa maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2022. “Harus kita doronglah pemimpin yang baik ini. Bu Risma itu bagus, tapi jangan antikritik dong!” tegasnya

Soal anak buah Risma yang sibuk membantah pernyataan Khofifah, menurut Giyanto, hal itu malah menunjukkan ketidakdewasaan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“Sangat-sangat tidak dewasa. Enggak perlu seperti itu, cari solusi, kok makin main serang. Yuk duduk bersama yuk, nek perlu dibantu Pemprov opo ngunu lho, opo sing perlu direwangi,” ujarnya.

Kalau kemudian Khofifah menyinggung soal bau sampah di GBT, menurut Giyanto, wajar-wajar saja karena dia sebagai gubernur. “Pantaslah Bu Gubernur bicara seperti itu, kan cari solusi. Enggak perlu saling menyalahkan,” katanya.

“Jangan main serang di media, di Medsos. Kita kan ingin Surabaya ini juga jadi venue Piala Dunia U-20. Jangan antikritik lah,” tandas Giyanto.

Terlalu Emosional

Hal sama disampaikan Pengamat Politik, Airlangga Pribadi Kusman. Menurutnya, pernyataan sejumlah pejabat Pemkot terkesan terlalu emosional dalam menanggapi statement Khofifah soal GBT yang masih bau sampah.

Mestinya, pernyataan Khofifah dimaknai sebagai rasa perhatian dan sayang Khofifah terhadap pengelolaan Kota Surabaya, termasuk warga Surabaya dan suporter Persebaya, Bonekmania.

“Bukan sebaliknya justru kembali menyerang gubernur. Toh apa yang disampaikan itu fakta, mengingat posisi GBT berdekatan dengan TPA Benowo. Jangan baper, harusnya ini menjadi bahan introspeksi,” katanya.

Menurut Airlangga, komentar Khofifah semata-mata agar Pemkot membenahi pengelolaan sampah, yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari GBT. Apalagi GBT menjadi salah satu stadion yang diajukan ke FIFA untuk menjadi venue Piala Dunia U-20.

“Sebenarnya hal itu tidak perlu direspons reaktif, karena justru menghalangi pembenahan Kota Surabaya yang saat ini sudah baik justru lebih baik lagi,” kata pengajar di Departemen FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

» Baca Berita Terkait Bara JP, Risma