Banyak Penghargaan, tapi Risma Dikritik Kurang Hargai Orang

TAK BISA MASUK GBT: Gus Hans (kanan) saat mendampingi Zainudin Amali. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TAK BISA MASUK GBT: Gus Hans (kanan) saat mendampingi Zainudin Amali. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kritik untuk Pemkot Surabaya, terkait insiden Menpora Zainudin Amali yang tak dibukakan pintu Gelora Bung Tomo (GBT), terus mengalir dari sejumlah pihak. Termasuk dari Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans.

Menurut presiden Football for Peace Interfaith Indonesia tersebut, menteri adalah pejabat negara yang mestinya mendapatkan perlakukan khusus, serta penghormatan dari pejabat di daerah atau level di bawahnya.

“Ini (insiden Menpora di GBT) bisa menjadi pelajaran buat kita, bahwa memimpin sebuah wilayah atau kota juga diperlukan kedewasaan dan saling menghargai,” kata Gus Hans pada Barometerjatim.com, Senin (4/11/2019).

“Mungkin selama ini Bu Risma (Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini) sering mendapatkan penghargaan dan kita apresiasi dalam konteks itu, tapi kurang belajar menghargai,” tandasnya.

Apakah dengan tidak dibukanya pintu GBT untuk Menpora, semakin membenarkan pernyataan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa kalau masih ada aroma sampah di stadion tersebut?

“Ya memang itu kan kenyataan. Tapi yang harus dibicarakan adalah solusinya, mestinya duduk bersama, mengurangi ego masing-masing dan mencari solusi agar tidak bau,” katanya.

Gus Hans berpandangan, pernyataan Khofifah terkait opsi stadion untuk usulan venue Piala Dunia U-20 tahun 2021 dari Jatim, justru untuk menjaga nama baik Risma yang selama ini terkenal dengan taman kotanya.

“Kalau misalnya dilaksanakan di sana (GBT), kan enggak ada taman-tamannya, tapi perjalanan melewati sampah dan sebagainya, maka ini yang harus dicarikan solusi. Jadi sebenarnya Bu Risma ini diperhatikan sama Bu Khofifah,” paparnya.

Lagi pula, fasilitas dalam  pertandingan sepak bola tidak hanya stadion, tapi juga infrastuktrur termasuk akses masuk. Ini yang kemudian diperhatian banyak pihak karena menyangkut nama negara.

“Cuma mungkin perlu adanya perhatian Bu Risma agar menghargai setiap orang, apalagi pejabat negara. Jabatan itu kan ada waktunya, suatu saat Bu Risma juga kan menjadi orang biasa,” ucapnya.

» Baca Berita Terkait Golkar, Risma