7 Bulan Fandi Utomo Gerilya Pilwali, Elektabilitas Hanya 4,3%

Elektabiltas Fandi Utomo (kiri) rendah, tak sampai lima persen. | Foto: Ist Barometerjatim.com/roy hasibuan
Elektabiltas Fandi Utomo (kiri) rendah, tak sampai lima persen. | Foto: Ist Barometerjatim.com/roy hasibuan

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ikhtiar Fandi Utomo maju calon wali kota Surabaya pasca Tri Rismaharini (Risma) di Pilwali Surabaya 2020, rupanya belum membuahkan elektabilitas yang memadai.

Bayangkan! Hampir tujuh bulan gerilya terkait dukungan maju di Pilwali, sejak Juli 2018, elektabilitas politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) — sebelumnya gabung Partai Demokrat — itu ‘mangkrak’ di angka 4,3 persen.

Angka tersebut berdasarkan hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) yang dirilis di Hotel Yello, Surabaya, Rabu (9/1).

Survei dilakukan SSC pada 20-31 Desember 2018 di 31 kecamatan di Kota Surabaya, melibatkan 1.000 responden melalui teknik stratified multistage random sampling. Margin of error kurang lebih 3,1 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Tingkat keterpilihan Fandi Utomo, bahkan masih di bawah Ketua DPRD Surabaya, Armuji (4,5 persen) atau politikus Golkar yang anggota DPR RI, Adies Kadir (6,9 persen).

Sementara elektabilitas tertinggi diraih petahana Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana dengan tingkat keterpilihan 15,4 persen. Disusul mantan Cawagub Jatim, Puti Guntur Soekarno yang dipilih 15,1 persen responden.

Mengapa capaian elektabilitas Fandi Utomo masih rendah? Menurut Dirut SSC, Mochtar W Oetomo, survei yang dilakukan lembaganya agak jumbo karena digelar bersamaan dengan Pileg 2019 yang mayoritas kandidat juga maju Caleg.

“Sehingga, elektabilitasnya cenderung linier dengan elektabilitas pencalegan. Maka seperti case (kasus) Mas Fandi Utomo ini,” kata peneliti yang juga pengajar di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut.

Diuntungkan Beda Dapil

Elektabilitas kandidat calon wali kota Surabaya di Pilwali 2020. | Grafis: Capture SSC
Elektabilitas kandidat calon wali kota Surabaya di Pilwali 2020. | Grafis: Capture SSC

Case yang dimaksud Mochtar, walaupun Fandi sudah deklarasi cukup lama dan relatif banyak melakukan aktivitas berkaitan dengan Pilwali, tapi karena pada saat bersamaan nyaleg dari PKB maka pemilihnya menjadi tersegmentasi.

“Maka sebenarnya elektabilitas Fandi Utomo di Pilwali itu linier dengan elektabilitasnya di pencalegan,” tandasnya.

Kondisi ini berbeda, misalnya dengan case politisi muda seperti Bayu Airlangga (2 persen) atau Mohammad Abid Umar Faruq alias Gus Abid (0,5 persen). Keduanya belum banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan Pilwali, tapi mendapatkan popularitas dan elektabilitas lumayan.

Mengapa bisa demikian? “Ya karena tidak terkait dengan aktivitasnya sebagai Caleg di Surabaya, Dapil mereka berbeda, sehingga suaranya menjadi tidak linier. Itu yang membedakan dan harus dievaluasi masing-masing kandidat dalam menjalankan strategi,” jelas Mochtar. •

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Fandi Utomo