Stunting Balita di Jatim Masih Tinggi, Kota Malang Terparah!

TURUNKAN ANGKA STUNTING: Khofifah menerima audiensi PD IBI Jatim di kantor gubernur Jatim. | Foto: IST
AJAK TURUNKAN ANGKA STUNTING: Gubernur Khofifah menerima audiensi PD IBI Jatim di kantor gubernur Jatim. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Angka Kematian Ibu (AKI) dan stunting balita di Jatim rupanya masih tinggi. Sejumlah langkah penyelesaian pun dilakukan Gubernur Khofifah Indar Parawansa, termasuk menggandeng Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

Merujuk data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim yang dikutip Khofifah, berdasarkan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) per 20 Juli 2019, prevalensi stunting balita di Jatim masih tinggi mencapai 36,81 persen.

Tiga daerah tertinggi prevalensinya yakni Kota Malang sebanyak 51,7 persen, Kabupaten Probolinggo (50,2 persen), dan Kabupaten Pasuruan (47,6 persen).

Lalu berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stunting balita umur 0-59 bulan di Jatim mencapai 32,81 persen. Angka ini lebih tinggi dari prevalensi stunting nasional sebesar 30,8 persen.

Sedangkan terkait keputusannya menggandeng IBI Jatim, Khofifah menuturkan karena banyak program yang bisa mempertemukan IBI dengan Pemprov Jatim.

“Karenanya, beberapa hal yang menjadi PR Jatim perlu dipetakan ulang dan disosialisasikan kembali,” ujar Khofifah saat menerima Pengurus Daerah IBI di kantor gubernur Jatim, Jalan Pahlawan 110 , Surabaya, Jumat (19/7) malam.

Menurut Khofifah, IBI Jatim bisa menjadi ujung tombak di daerah-daerah utamanya yang AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) dan stuntingnya masih tinggi.

Apalagi khusus permasalahan stunting telah menjadi kesadaran kolektif mulai dari presiden hingga masyarakat. Pihak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga menyadari bahwa stunting perlu ditangani dengan serius.

“Pihak Kemenkeu menyadari bahwa seluruh energi telah diberikan untuk menyiapkan SDM berkualitas, tetapi kalau jumlah penduduk yang stunting tidak tereduksi maka akan menjadi beban,” ujar Khofifah.

“Karena itu, percepatan pencegahan stunting ini perlu ada intervensi lewat kolaborasi dengan berbagai lembaga termasuk di dalamnya IBI,” sambung mantan Menteri Sosial itu.

30.598 Bidan IBI

Masih berdasarkan data Dinkes Jatim, lanjut Khofifah, untuk jumlah kematian ibu di Jatim pada 2017 mencapai 529 orang per seratus ribu kelahiran hidup. Pada 2018, angkanya turun menjadi 522 orang. Lalu pada 2019 hingga 19 Juli, turun menjadi 263 orang.

Jumlah kematian ibu tertinggi di Jatim per Januari-Juni 2019 tersebut, yakni berasal dari Jember, Banyuwangi, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.

Sementara Ketua IBI Jatim Lestari, menyatakan pihaknya siap membantu Pemprov Jatim dalam menangani AKI, AKB, dan stunting.

Terlebih jumlah bidan yang tergabung di IBI mencapai 30.598 orang dan tersebar di 38 kabupaten dan kota di Jatim.

  • PREVALENSI TIGA DAERAH TERTINGGI
    Kota Malang: 51,7%
    Kab Probolinggo: 50,2%
    Kab Pasuruan: 47,6%
  • KEMATIAN IBU DI JATIM
    2017: 529 Orang
    2018: 522 orang
    2019: 263 orang
  • DAERAH DENGAN KEMATIAN TERTINGGI
    Kab Jember
    Kab Banyuwangi
    Kab Blitar
    Kab Malang

» Baca Berita Terkait Khofifah, Gizi Buruk