Rabu, 07 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Spanduk Setnov, ‘Kampanye Hitam’ yang Mudah Terbaca?

Berita Terkait

TAK ELEGAN: Ketua Ansor PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto periode 2009-2013, Saiful Amin, spanduk Setnov upaya menjatuhkan Khofifah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TAK ELEGAN: Ketua Ansor PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto periode 2009-2013, Saiful Amin, spanduk Setnov upaya menjatuhkan Khofifah yang mudah terbaca. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tak hanya Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jatim periode 2009-2013, Muslih HS yang terkekeh melihat spanduk dukungan bergambar Setya Novanto (Setnov). Hal sama ditunjukkan Ketua Ansor PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto periode 2009-2013, H Saiful Amin SE.

“Itu gaya lama, bagian dari upaya untuk menjatuhkan Bu Khofifah dengan mengambil moment Setnov (yang tengah berurusan dengan KPK dalam kasus e-KTP),” katanya dalam perbincangan dengan Barometerjatim.com, Sabtu (18/11).

“Cara-cara dari orang yang tidak bertanggung jawab. Kan (spanduk) bukan dari Setnov, belum tentu juga dari orang Golkar. Bisa jadi itu black campaign cuma gampang dibaca. Begitu aja, ndak usah ditafsiri banyak-banyak.”

• Baca: Spanduk Setnov, ‘Propaganda’ yang Gak ‘Kids Jaman Now’

Saiful juga mengingatkan, semakin rajin Khofifah ‘dizalimi’ justru akan semakin memperbesar dukungan masyarakat Jawa Timur terhadap Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU tersebut.

“Saya yakin Bu Khofifah akan memenangi Pilgub Jatim 2018. Apalagi melihat kekuatan Muslimat NU yang begitu loyal kepada ketua umumnya,” tandas mantan anggota DPRD Kabupaten Mojokerto itu.

Sebelumnya, eks orang dekat Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Muslih Hasyim menyebut pemasangan spanduk dengan memanfaatkan moment Setnov sebagai cara lama yang tujuannya hanya untuk menjatuhkan lawan. “Haha.. Itu cara-cara yang tidak ‘kids jaman now’ banget,” katanya.

•Baca: Tokoh Muda se-Jatim Deklarasi Relawan Sahabat Khofifah

Menurut Sekretaris Dewan Pembina Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim tersebut, jika cara 13 tahun lalu itu dipakai sekarang justru akan menguntungkan lawan dan menghantam balik karena masyarakat pemilih semakin cerdas.

“Orang akan berkesimpulan, kok menggunakan cara-cara tidak sehat seperti ini ya. Masyarakat sekarang sudah cerdas, punya daya nalar yang rasional. Ini yang masang yang enggak cerdas. Apalagi spanduk cuma beberapa, tapi dibuat seolah-olah bertebaran,” paparnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -