Skor Machfud Arifin Tertinggi, Soal Elektabilitas Nanti Dulu!

HASIL PENJARINGAN: (Dari kiri) Machfud Arifin, Gus Hans, Hariyanto dan Gamal. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
HASIL PENJARINGAN: (Dari kiri) Machfud Arifin, Gus Hans, Hariyanto dan Gamal Albinsaid. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – DPC Partai Gerindra Surabaya, telah menetapkan empat nama hasil penjaringan untuk Pilwali Surabaya 2020. Secara berurutan berdasarkan skoring, mereka yakni Machfud Arifin, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans, Hariyanto dan Gamal Albinsaid.

Lantas, kepada siapa rekomendasi DPP akan diberikan? Menurut Sekretaris DPC Partai Gerindra Surabaya, AH Thony, jika melihat skoring — skor tak dicantumkan dalam surat permohonan rekomendasi — yang tertinggi memang Machfud.

“Itu kan skoringnya normatif ya, tapi pertimbangan politik bisa saja yang kemudian di bawah ternyata dipandang memiliki trust yang baik (dari masyarakat),” katanya di Surabaya, Selasa (14/1/2019).

“Orientasinya nanti pada proses pemilihan. Tadi kan belum ada variabel, tingkat elektabilitas kan belum diukur, belum masuk,” sambungnya.

Kalau setelah disurvei DPP, lanjut Thony, misalnya Gamal yang memiliki skor terendah ternyata elektabilitasnya justru lebih tinggi, maka tidak menutup kemungkinan Gamal yang akan diusung. Bisa pula Gus Hans atau Hariyanto.

Tapi apapun keputusan DPP, lanjut Thony, keempat kandidat tersebut memiliki kualitas untuk meneruskan pembangunan di Surabaya yang selama ini belum seluruhnya disentuh Tri Rismaharini alias Risma.

Dia mencontohkan Gamal yang bereputasi internasional. “Dokter Gamal bisa melanjutkan lagi, go international-nya (Surabaya) bisa lebih hebat lagi,” kata Thony.

Begitu pula dengan Hariyanto. “Kalau Bu Risma kan tata kotanya, tamannya, luar biasa kan? Bisa jadi kalau Pak Hariyanto yang muncul, maka setelah Surabaya hijau, penegakan hukumnya juga luar biasa,” paparnya.

Berikutnya Machfud yang dinilai berpengalaman di kepolisian. Kehadirannya, menurut AH Thony, bisa saja memberikan penyempurnaan terhadap prestasi Risma.

“Mungkin terhadap penegakan pemberantasan korupsinya. Sehingga sudah bagus dibangun Bu Risma, tetapi untuk penyimpangan agar bisa ditertibkan lagi,” ujarnya.

Pun demikian dengan Gus Hans. Basis pesantren yang dimiliki bisa membawa Surabaya lebih religius, baik kota maupun warganya, dengan sentuhan tetap modern karena tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) itu terbilang kiai milenial.

“Melihat dari empat yang dipilih, ini memiliki spesifikasi beda-beda di luar apa yang telah dilakukan Bu Risma. Sehingga nanti siapapun yang terpilih, kelihatannya akan menyempurnakan warna dari Surabaya,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya