Sambang Kampus, Sadad: Milenial Jangan Apatis Terhadap Politik!

MEMUKAU: Anwar Sadad, tampil memukau dalam seminar di UIN KH Ahmad Sidiq Jember. | Foto: Barometerjatim.com/IST
MEMUKAU: Anwar Sadad, tampil memukau dalam seminar di UIN KH Ahmad Sidiq Jember. | Foto: Barometerjatim.com/IST

JEMBER, Barometerjatim.com – Anwar Sadad sambang kampus. Kamis (23/9/2021), wakil ketua DPRD Jatim itu turun ke Universitas Islam Negeri (UIN) KH Ahmad Sidiq Jember untuk menjadi pembicara dalam seminar tentang wacana amandemen UUD 1945 dalam perspektif akademis.

Sekitar 29 menit, Sadad tampil memukau dalam seminar yang diikuti perwakilan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Sema PTKIN) se-Jawa dan Nusa Tenggara tersebut.

“Diskusi semacam ini bisa membuka kotak pandora, bahwa adik-adik kita, generasi milenial, janganlah menjadi orang-orang, kelompok yang apatis terhadap perbincangan mengenai negara, mengenai politik,” katanya.

“Kenapa? Karena di tangan adik-adiklah masa depan politik bangsa ini,” tandas legislator yang juga ketua DPD Partai Gerindra Jatim itu seraya mengangkat tangan kanannya yang disambut aplaus panjang mahasiswa.

Terlebih, lanjut Sadad, dalam beberapa pemaparan lembaga survei yang dirilis menunjukkan semakin tingginya apatisme generasi milenial terhadap tema-tema soal negara dan politik.

“Ada lembaga survei yang menyebutkan hanya 22 persen dari generasi milenial tertarik pada politik. Mungkin lebih tertarik membaca postingan Instagram, Lambe Turah, mungkin, atau gosip-gosip artis,” katanya.

Karena itu, ketika diundang mahasiswa ke UIN KH Ahmad Sidiq, sebagai ketua partai politik Sadad mengaku senang dan merasa wajib datang.

“Kenapa? Karena saya ingin wajah politik di masa depan, itu adalah wajah politik yang dihiasi dengan perdebatan-perdebatan yang akademik di antara para politikusnya,” katanya.

Perdebatan Founding Father

Sadad tak memungkiri, saat ini bisa disaksikan, kadang-kadang karena pragmatisme membuat parpol tidak bisa mengusung atau merekrut politikus yang andal.

“Bukan orang yang visioner, tapi punya gizi, katanya begitu. Bukan punya kapasitas, elektabilitas, tapi isi tas, katanya begitu,” ujarnya sembari tersenyum.

Tapi, tandas Sadad, itu pilihan, risiko dari memilih demokrasi sebagai sistem pemerintahan. Apalagi waktu itu memilih demokrasi dalam sebuah negara yang belum matang.

Maka yang terjadi seperti sekarang. Mereka yang duduk di lembaga legislatif, kadang-kadang bukanlah orang yang punya kemampuan bicara soal negara, konstitusi, atau kebangsaan, tetapi orang-orang yang bisa membeli suara dari rakyat.

“Ini otokritik buat kita. Oleh karena itu saya merasa, kewajiban dari tokoh-tokoh politik hari ini adalah bagaimana bertemu dengan anak-anak muda, berdiskusi, agar menjadi transfer pengetahuan, pengalaman,” katanya.

Mungkin juga suatu mekanisme rekrutmen, agar ke depan tampilan politik di negara ini bukan tampilan politik yang diisi dengan perdebatan tidak bermutu. Sebaliknya, diisi dengan perdebatan yang bernas, cendikia, serta akademik.

“Seperti perdebatan-perdebatan yang dilakukan oleh founding father ketika dalam membentuk konstitusi kita,” tuntas politikus keluarga Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogiri, Pasuruan, yang akrab disapa Gus Sadad tersebut.

» Baca Berita Terkait DPRD Jatim