Jatim Sarat Penghargaan, Sadad: Bukan Indikator Kinerja Utama!

JANGAN BANGGA PENGHARGAAN: Anwar Sadad, parameter evaluasi Pemda adalah IKU bukan banyaknya penghargaan. | Foto: IST
JANGAN BANGGA PENGHARGAAN: Anwar Sadad, parameter evaluasi Pemda adalah IKU bukan banyaknya penghargaan. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pemprov Jatim dan Gubernur Khofifah Indar Parawansa tak henti-hentinya menyabet penghargaan. Termasuk baru-baru ini Khofifah meraih TOP Pembina BUMD di ajang TOP BUMD Award 2021.

Namun Wakil Ketua DPRD Jatim, Anwar Sadad mengingatkan bahwa penghargaan-penghargaan tersebut bukan merupakan bagian dari sistem evaluasi jalannya pemerintahan.

“Karena pasti, ketika pemerintahan daerah itu dievaluasi, maka paramaternya adalah Indikator Kinerja Utama (IKU) sesuai ketentuan dalam perundang-undangan, bukan banyaknya penghargaan. Jadi IKU yang jadi ukuran, bukan banyaknya penghargaan,” katanya, Sabtu (18/9/2021).

Apalagi, tandas legislator yang juga ketua DPD Partai Gerindra Jatim tersebut, bisa saja penghargaan diberikan karena terbaik dari yang terburuk.

“Kan bisa saja. The best among the worst. Jadi jangan berbangga, itu bisa saja terbaik dari yang terburuk. Lain-lainnya itu bukan terbaik tapi terburuk, bisa saja kan?” ucapnya.

Meski demikian, kata Sadad, penghargaan tetap harus disyukuri sekaligus sebagai motivasi, pelecut, agar kinerja Pemprov maupun BUMD semakin baik di masa mendatang, mengingat kinerja sebagian besar BUMD Jatim memburuk dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ya, sejak menjabat gubernur pada 13 Februari 2019, Khofifah maupun Pemprov Jatim memang sarat penghargaan. Di bulan September 2021 ini saja, selain dari ajang TOP BUMD Award 2021, Jumat (10/9/2021), Khofifah juga menerima penghargaan Manggala Karya Kencana (MKK) dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Senin (6/9/2021).

Tapi tidak semua penghargaan yang diraih peringkat satu. Di ajang Humas Entrepreneur Award yang diterima Khofifah Senin (6/9/2021), misalnya. Jatim hanya meraih bronze winner (perunggu) untuk kategori provinsi, kalau jauh dari DKI Jakarta (3 gold winner) bahkan masih di bawah DI Yogyakarta (silver winner).

Pun dalam penghargaan bidang pertanian yang digelar Kementerian Pertanian (Kementan), Senin (13/9/2021). Jatim kalah dari Lampung untuk kategori provinsi dengan peningkatan produksi padi tertinggi tahun 2019-2020. Jatim berada di peringkat kedua.

Kalah dari Lampung tak membuat Pemprov Jatim puas. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Jatim, Hadi Sulistyo bahkan memprotes ajang Kementan lantaran tak ada kategori produksi padi. Sebab kalau disertakan, Jatim bisa peringkat satu.

Merujuk data produksi padi di Indonesia menurut provinsi tahun 2019-2020 (ton-GKG/Gabah Kering Giling), produksi padi Lampung mencapai 2.650.290 ton GKG atau meningkat 486.200 (22,47%) dari produksi padi pada 2019 sebanyak 2.164.089 ton.

Sedangkan produksi padi Jatim pada 2020 sebanyak 9.944.538 ton, meningkat 363.604 (3,80%) dari produksi 2019 sebanyak 9.580.934 ton.

Namun protes Hadi ditanggapi Sadad dengan nada heran. “Ya, kategori itu yang menentukan kan yang memberi penghargaan, masa kita mau pilih-pilih,” kata politikus keluarga Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogiri, Pasuruan yang akrab disapa Gus Sadad itu.

“Sama aja kan, pertandingan apa, kategori itu kan yang mengadakan panitia turnamen, masa terus milih. Kita sudah bikin lima gol, sudah banyak, tapi kebobolan enam gol ya kalah,” ucapnya disertai senyum tipis.

» Baca Berita Terkait Pemprov Jatim