Pengamat Mulai Ragu Gus Ipul Dapat Parpol

‘HARAP-HARAP CEMAS’: Saifullah Yusuf, hingga kini belum ada Parpol yang melamarnya untuk mau di Pilgub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/BAYAN AR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Saifullah Yusuf mulai ‘harap-harap cemas’. Siap maju di Pilgub Jatim 2018, tapi hingga kini belum ada satu pun partai politik (Parpol) yang akan mengusungnya. Terlebih dia sudah menegaskan tak akan maju lewat jalur perseorangan.

“Belum (ada yang melamar). Belum ada yang spesifik. Tetapi saya yang ambil inisiatif, siapa tahu ada gagasan yang sama untuk memajukan Jawa Timur,” katanya usai nonton bareng Film Kartini, Jumat (21/4).

Pejabat yang akrab disapa Gus Ipul itu juga mengaskan, dirinya tak hanya berusaha mendekati PDIP tapi semua Parpol. “Dengan semua partai. Saya tetap berkomunikasi untuk menyamakan frekuensi. Bahwa nanti siapa yang akan mencalonkan, saya serahkan kepada pimpinan partai masing-masing,” paparnya.

Entah ada apa dengan Parpol sehingga belum ada yang melamar Gus Ipul. Apakah ini pertanda ke-10 Parpol pemilik kursi di DPRD Jatim tengah menyusun ‘skenario’ untuk mengusung satu pasangan calon dan nama itu di luar Gus Ipul?

• Baca: Soal Izin Khofifah, Pakde Karwo ‘Jemput Bola’ ke Presiden

Bisa jadi, setidaknya pengamat politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Haryadi berani berasumsi peluang satu pasangan calon di Pilgub Jatim 2018 masih terbuka lebar.

“Peluang satu pasangan masih lebih terbuka di Jatim dibandingkan Jabar dan Jateng. Saya berani bilang tiga pasangan nggak mungkin. Dugaan saya paling banyak dua pasangan,” ujarnya.

Dalam analisa Hariyadi, peluang satu pasangan sangat besar, jika PKB yang memiliki 20 kursi dan PDIP 19 kursi berkoalisi, maka hal itu bisa menarik Parpol lain untuk bergabung. Apalagi jika kekuatan Ormas ikut mendukung.

Lantas, siapa kandidat yang berpeluang menjadi pasangan calon tunggal? Haryadi masih enggan menyebut nama, meski selain Gus Ipul ada kandidat lain yang dari hari ke hari makin populer di Jatim, yakni Khofifah Indar Parawansa.

Soekarwo Akan Berhitung

DEKAT SOEKARWO BUKAN GARANSI: Dr Biyanto M.Ag, posisi Saifullah Yusuf agak rawan karena tidak memiliki kendaraan politik meskipun sangat dekat dengan Soekarwo. | Foto: Ist

Jika Hariyadi masih ‘wait dan see’ dalam menganalisa, tidak demikian dengan Dr Biyanto M.Ag. Pengamat politik asal Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu justru menilai posisi Gus Ipul agak rawan karena tidak memiliki kendaraan politik meskipun sangat dekat dengan Soekarwo, ketua DPD Partai Demokrat Jatim. Artinya Soekarwo akan tetap ‘berhitung’.

“Belum tentu atas nama partai Pakde Karwo mencalonkan Gus Ipul, apalagi kalau diperintahkan DPP Partai Demokrat untuk mencalonkan calon lain. Artinya, boleh jadi tidak Gus Ipul yang didorong Pakde Karwo,” katanya.

Biyanto juga menilai peluang Gus Ipul merapat ke PKB tipis karena Green Party sudah memiliki Abdul Halim Iskandar yang sudah banyak melakukan investasi, termasuk sosialisasi lewat billboard dalam ukuran besar di pingir jalan utama hampir di seluruh kabupaten/kota di Jatim.

“Saya melihatnya, Gus Ipul dan PKB sekarang ini hubungannya tidak smooth. Sangat mungkin PKB tidak ke Gus Ipul dan sangat mungkin mencalonkan kader sendiri lalu koalisi dengan partai lain,” katanya.

“Soal kekuatan saya melihat lebih baik Khofifah karena saat ini dia masih menjabat di Muslimat NU. Kalau Gus Ipul kan mantan.”

Bagaimana dengan Khofifah, bukankah Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu juga tidak punya Parpol? Menurut Biyanto kondisi Khofifah dengan Gus Ipul beda. Meski tak memiliki Parpol, basis dukungan yang dimiliki Khofifah lewat jamaah Muslimat NU lebih riil dan itu akan menarik dukungan Parpol.

“Muslimat NU sudah teruji dua kali di Pilgub Jatim dan dukungannya ke Khofifah utuh. Jangan lupa saat ini Khofifah masih ketua umum, bahkan sudah empat periode ini dan soliditas ibu-ibu Muslimat NU bisa diandalkan untuk mendukung ketua umumnya,” paparnya.

Sebaliknya, Biyanto tidak tahu persis hubungan Gus Ipul dengan GP Ansor yang pernah dua periode dipimpinnya. “Tapi soal kekuatan saya melihat lebih baik Khofifah karena saat ini dia masih menjabat di Muslimat NU. Kalau Gus Ipul kan mantan,” tandasnya.