Panen Raya Pertama! Wakaf Sawah Produktif ACT Tuai Hasil

MULAI TUAI HASIL: Panen raya pengelolaan wakaf sawah produktif Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Mojokerto. | Foto: Barometerjatim/com/ACT
MULAI TUAI HASIL: Panen raya pengelolaan wakaf sawah produktif Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Mojokerto. | Foto: Barometerjatim/com/ACT

MOJOKERTO, Barometerjatim.com – Pengelolaan Wakaf Sawah Produktif (WSP), yang diinisiasi Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) dan Gema Petani,  membuahkan hasil menggembirakan.

Hal itu dibuktikan dengan panen raya beras dari sawah hasil wakaf di Dusun Tumpangsari, Desa Jitu, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, Sabtu (10/4/2021).

Presiden ACT, Ibnu Khajar menuturkan, intervensi wakaf pada produksi tani dimulai sejak pembibitan. Bibit yang digunakan yakni jenis HMS700, yang mana dalam satu malai dapat mencapai 700 bulir.

Lalu dalam pemeliharaan, para petani juga diberikan biaya dan akses untuk mendapatkan pupuk. Sehingga, kualitas padi terjaga dan mendapatkan hasil maksimal.

Gabah yang dipanen juga akan dibeli ACT dengan harga terbaik untuk didistribusikan kepada warga prasejahtera selama Ramadhan, melalui Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan (GSPR) dan aksi-aksi kemanusiaan lainnya.

“Kita bertekad memperjuangkan kesejahteraan para petani. Niat dan semangat besar itu dimulai dari panen raya pertama di Jatim yang dibiayai wakaf di Dusun Tumpangsari,” katanya.

“Hasil panen diserap ACT untuk kebutuhan Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan dan aksi-aksi kemanusiaan lainnya,” sambungnya.

Menurut Ibnu, ini membuktikan bahwa wakaf dapat menjadi motor penggerak dalam menyejahterakan petani. Panen ini sekaligus menjadi oase di tengah isu rencana ekspor beras.

Kebijakan ekspor beras, lanjut Ibnu, jelas mengancam penyerapan hasil para petani. Akibatnya, harga padi jatuh dan tak dapat menutupi modal yang telah dikeluarkan para petani lokal.

Ibnu menambahkan, melihat besarnya peran petani dalam produksi pangan ini, pantaslah jika para petani disebut sebagai pahlawan yang sebenarnya.

“Karena pertanian adalah pondasi kehidupan di dunia ini. Maka dengan demikian, para petani adalah pahlawan yang menyelamatkan kehidupan.” ujarnya.

Kebahagiaan bagi Petani

Sementara itu, Ketua Pembina YP3I, KH Mahfudz Syaubari mengatakan, panen raya menjadi suatu kebahagiaan bagi petani karena sekitar tiga bulan memelihara padi seperti anaknya sendiri. Sehingga ketika memanen dapat bermanfaat bagi dirinya dan  untuk kemaslahatan umat.

“Kebahagiaan petani datang karena padi yang ia tanam siap dipanen. Kebahagiaan itu bertambah saat padi yang ia hasilkan digunakan untuk kemaslahatan umat, menolong warga pra sejahtera, yang membutuhkan, dan kelaparan,” ujarnya.

Panen raya pertama di Jatim dari sawah yang didanai wakaf melalui program Wakaf Sawah Produktif akan dilakukan di Dusun Tumpangsari, Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto.

Selain di Mojokerto, total sawah dari empat wilayah lain yakni Pasuruan, Malang, Ponorogo, dan Sidoarjo yang masuk program WSP dan siap dipanen mencapai sekitar 9 hektare dengan hasil sebanyak 110 ton.

Dalam aktivitasnya, program WSP melibatkan 3.000 petani, 22.500 tenaga kerja. Selain itu ada 2.500 pesantren yang terberdayakan dengan 23.500 santri yang menerima manfaat per bulan. Di luar itu, 440.474 KK juga menjadi penerima manfaat.

» Baca Berita Terkait Beras Impor