Senin, 24 Januari 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Miris! Penduduk Miskin Ekstrem di Jatim Capai 1,7 Juta Jiwa

Berita Terkait

KEMISKINAN EKSTREM: Data BPS, penduduk miskin ekstrem di Jatim mencapi 1,7 juta atau 4,4% dari jumlah penduduk. | Data: BPS
KEMISKINAN EKSTREM: Data BPS, penduduk miskin ekstrem di Jatim mencapi 1,7 juta atau 4,4% dari jumlah penduduk. | Data: BPS
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama pandemi Covid-19 membuat penduduk miskin bertambah dari 9,78% pada 2020 menjadi 10,14% di 2021.

Namun yang perlu diperhatikan, yakni extreme poverty alias kemiskinan ekstrem yang ikut meningkat dengan sebaran di Pulau Jawa. Secara jumlah, tiga provinsi tertinggi yakni Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

“Kemiskinan kita juga meningkat, tetapi catatan penting yang perlu diperhatikan adalah kemiskinan ekstrem yang meningkat,” terang Kepala BPS, Margo Yuwono dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Kemenkeu, Bappenas, Bank Indonesia, OJK, dan BPS yang disiarkan kanal Youtube Komisi XI DPR RI, Senin (30/8/2021).

“Jadi kemiskinan ekstrem itu adalah kemiskinan yang mengikuti standar global, dimana garis kemiskinan setara dengan 1,9 USD. Ini meningkat dari 3,8% menjadi 4,0%, yang menjadi penting di sana,” sambungnya.

Dari data BPS, provinsi dengan extreme poverty tertinggi yakni Jawa Barat sebanyak 1.785.600 orang atau 3,6% dari jumlah penduduk, disusul Jawa Timur 1.747.000 orang (4,4%), dan Jawa Tengah 1.527.600 orang (4,4%).

Selain kemiskinan ekstrem, pandemi Covid-19 juga berdampak pada kenaikan pengangguran, terutama pada kelompok anak muda berusia 20-29 tahun.

“Pengangguran terkait dengan pandemi ini yang menerpa kita, justru yang menjadi catatan adalah pengangguran pada usia muda itu lumayan tinggi,” beber Margo.

Menurut data BPS, tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2021 pada penduduk usia 20-24 tahun sebesar 17,66%, sedangkan penduduk usia 25-29 tahun 9,27%.

Artinya, pengangguran pada penduduk usia 20-24 tahun meningkat 336 poin dibandingkan Februari 2020 sebesar 14,3%. Lalu pengangguran pada pendudukan usia 25-29 tahun meningkat 226 poin dibandingkan TPT periode yang sama tahun lalu 7,01%.

Bahkan, tingkat pengangguran ini meningkat hampir pada seluruh kelompok usia, kecuali usia 15-19 tahun yang justru turun dari 21,32% tahun lalu menjadi 18,88% pada Februari 2021.

Beralih ke Sektor Pertanian

PERHATIAN-PERHATIAN: Kemiskinan esktrem naik dari 3,8% menjadi 4,0% selama pandemi Covid-19. | Data: BPS
PERHATIAN-PERHATIAN: Kemiskinan esktrem naik dari 3,8% menjadi 4,0% selama pandemi Covid-19. | Data: BPS

Berdasarkan pendidikan, peningkatan pengangguran terbuka tertinggi terjadi pada jenjang pendidikan SMA/SMK. Pada Februari 2021, jenjang SMA mencapai 8,55% atau naik 1,86% poin dibandingkan Februari 2020 yang mencapai 6,69%. Lalu pendidikan SMK, pada Februari 2021 mencapai 11,45%, naik 3,03% dibandingkan Februari 2020 yang masih 8,42%.

“Kita tahu bahwa kalau pengangguran dengan edukasi baik, biasanya tuntutannya banyak. Ini menjadi persoalan sosial yang harus sama-sama kita pikirkan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Margo juga menjelaskan dua tantangan utama terkait kondisi ketenagakerjaan akibat pandemi Covid-19. Pertama, banyak tenaga kerja beralih ke sektor usaha yang memiliki produktivitas rendah, salah satunya pertanian.

Bertambahnya orang bekerja di sektor pertanian dan perdagangan, mengakibatkan produktivitasnya justru turun. “Artinya beban sektor pertanian dan perdagangan ini semakin bertambah,” ucapnya.

Kedua, banyak tenaga kerja yang beralih ke sektor informal selama pandemi Covid-19. Selain itu, jam kerja pekerja di sektor formal juga mengalami penurunan.

“Komposisi pasar tenaga kerja makin didominasi pekerja informal, porsinya naik dari 56,64% tahun lalu menjadi 59,61%,” jelas Margo.

» Baca Berita Terkait Kemiskinan

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -