Mahasiswa Gaduh di Grahadi, Airlangga Pribadi Minta Maaf!

GADUH DI GRAHADI: Airlangga Pribadi dibuat tegang dengan kegaduhan mahasiswa di Grahadi. | Foto: IST
GADUH DI GRAHADI: Airlangga Pribadi dibuat tegang dengan kegaduhan perwakilan BEM se-Jatim di Grahadi. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Raut muka Airlangga Pribadi Kusman terlihat tegang. Berulang kali, pengajar di Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu terlihat sibuk menenangkan mahasiswa.

Di sisi lain, dia tampak berusaha menjaga mahasiswa dari hujan protes sejumlah tamu undangan yang tak menginginkan siapapun membuat gaduh di Gedung Negara Grahadi.

“Saya dosen dari mereka. Saya paham, saya paham psikologisnya teman-teman, karena juga ada beberapa..” kata Airlangga mencoba menengahi ketegangan antara mahasiswa dengan tamu undangan yang protes.

Tapi belum lagi selesai menjelaskan, kalimat Airlangga sudah dipotong, “Kalau bapak paham psikologis teman-teman, bapak harus pahami saya dulu,” kata pemrotes berbaju kotak-kotak merah.

“Iya, makanya saya jelaskan, saya jelaskan,” ucap Airlangga mencoba memenangkan para pemerotes mahasiswa.

Ya, mungkin Airlangga juga tidak menyangka kalau rencana perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jatim untuk berdialog dengan Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Grahadi justru berujung gaduh.

Pemicunya, mahasiswa menolak jamuan makan malam yang disediakan, dan meminta dengan keras agar bisa langsung berdialog dengan gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.

Terlebih kegaduhan mahasiswa dipertontonkan di hadapan tamu-tamu istimewa Khofifah, di antaranya Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan dan Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI R Wisnoe Prasetja Boedi.

Usai dialog batal, Airlangga yang menjadi penghubung antara mahasiswa dan Khofifah, menuturkan sebetulnya acara di Grahadi tersebut rutin digelar Forkopimda dan kebetulan malam kemarin giliran gubernur dan acara ditempatkan di Grahadi.

“Terkait silaturahim dengan mahasiswa, sebetulnya memang dari pihak mahasiswa sendiri yang minta dikomunikasikan kepada gubernur melalui saya untuk bisa berdialog, terkait apa yang selama ini mereka serukan dalam aksi,” paparnya.

“Nah, sepertinya ada miskomunikasi, sehingga kami sendiri minta maaf pada gubernur, Bu Khofifah, Pak Kapolda, Pak Pangdam terkait peristiwa ini,” sambung dosen yang juga CEO The Initiative Institute itu.

Namun Airlangga menilai, situasi tersebut masih bisa diperbaiki karena persoalannya hanya pada miskomuniaksi yang perlu dikelola lebih baik lagi. “Dalam konteks ini mahasiswa juga harus bisa introspeksi diri,” tandasnya.

Tamu Harus Menghormati

Disinggung soal mahasiswa yang menolak jamuan makan malam, Airlangga mencontohkan jika ada orang bertamu lalu disuguhi makanan dan minuman adalah hal yang biasa dan pihak tamu seharusnya menghormati.

“Saya pikir kita memang masih perlu melakukan pembelajaran dalam berpolitik yang santun dan beradab, serta pembelajaran dalam berdemokrasi,” katanya.

Sebaliknya, mahasiswa menolak disebut tidak beradab karena dianggap membuat gaduh di acara tersebut.

“Saya minta maaf karena mengutamakan ini (tuntutan), bukan kita tidak beradab,” kata Zamzam Syahara, salah seorang mahasiswa asal Unair.

“Kita mengutamakan soal tuntutan, dialog, bukan mengutamakan soal makan atau tidak makan. Justru kita sangat berterima kasih Bu Khofifah mengundang kita, karena kita aksi tanggal 26 tuntutannya diterima,” sambungnya.

» Baca Berita Terkait Khofifah, Mahasiswa