LPB MUI: Konflik Keagamaan Terjadi karena Sikap Eksklusif!

MODERASI BERAGAMA: KH Amiruddin Nahwari, moderasi beragama jalan tengah di tengah keberagaman agama. | Foto: IST
MODERASI BERAGAMA: KH Amiruddin Nahwari, moderasi beragama jalan tengah di tengah keberagaman agama. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Wakil Ketua LPB Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Amiruddin Nahwari menuturkan, konflik keagamaan yang masih kerap terjadi di Indonesia lantaran sikap keberagamaan yang eksklusif.

“Dalam masyarakat Indonesia yang multibudaya, sikap keberagamaan yang ekslusif, yang hanya mengakui kebenaran dan keselamatan secara sepihak, tentu dapat menimbulkan gesekan antarkelompok agama,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (3/3/2021).

“Konflik keagamaan yang banyak terjadi di Indonesia, umumnya dipicu adanya sikap keberagamaan yang ekslusif,” tandas kiai yang juga bendahara Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.

Karena itu dalam konteks fundamentalisme agama, lanjut Kiai Amiruddin, untuk menghindari disharmoni perlu ditumbuhkan cara beragama yang moderat, atau sikap beragama yang terbuka yang disebut moderasi beragama.

“Moderasi itu artinya moderat, lawan dari ekstrem, atau berlebihan dalam menyikapi perbedaan dan keragaman,” katanya.

Moderasi beragama, katanya, bisa menjadi jalan tengah di tengah keberagaman agama di Indonesia. Moderasi juga merupakan budaya Nusantara yang berjalan seiring dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan lokal (local wisdom).

Kiai Amiruddin menambahkan, adanya beraneka ragam etnis, bahasa, agama, budaya, dan status sosial, keragaman dapat menjadi integrating force yang mengikat kemasyarakatan. Tapi sebaliknya, dapat pula menjadi penyebab terjadinya benturan antarbudaya, ras, etnik, agama, dan nilai-nilai hidup.

“Keragaman budaya (multikultural) merupakan peristiwa alami karena bertemunya berbagai budaya, berinteraksinya beragam individu dan kelompok dengan membawa perilaku budaya, serta memiliki cara hidup berlainan dan spesifik,” katanya.

Dalam masyarakat multikultural, interaksi sesama manusia juga cukup tinggi intensitasnya. Sehingga kemampuan sosial warga masyarakat dalam berinteraksi antarmanusia perlu dimiliki setiap anggota masyarakat.

Namun, Kiai Amiruddin kembali mengingatkan, sikap keberagamaan yang eksklusif malah dapat menimbulkan gesekan antarkelompok agama.

» Baca Berita Terkait MUI