Riuh Afirmasi Syiah-Ahmadiyah, Ketum MUI: Sudah Diralat, Clear!

WAQAF BUSINESS FORUM: KH Miftachul Akhyar (kanan) usai menghadiri WBF yang digelar ACT. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
WAQAF BUSINESS FORUM: KH Miftachul Akhyar (kanan) usai menghadiri WBF yang digelar ACT. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftachul Akhyar menyatakan ‘ribut-ribut’ soal Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut akan mengafirmasi hak beragam kelompok Syiah dan Ahmadiyah sudah selesai.

“Oh, itu sudah diralat itu,” katanya usai menghadiri Waqaf Business Forum (WBF) bertajuk Wakaf Energi Kedaulatan Pangan Umat yang digelar Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Hotel Santika Surabaya, Minggu (27/12/2020) sore.

Jadi sudah clear ya? “Sudah clear!” tegas kiai yang juga rais aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut, seraya mengakhiri wawancara karena akan shalat ashar.

Sebelumnya, Gus Yakut mendapat kritik dan reaksi keras dari sejumlah pihak, termasuk pengurus MUI di sejumlah daerah. Bahkan, di kalangan NU, peringatan salah satunya disampaikan Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, KH Safruddin Syarif.

Menurut Kiai Safruddin, NU memang payung atau tenda besar yang melindungi semua golongan bangsa Indonesia. Tetapi urusan Syiah dan Ahmadiyah yang merupakan persoalan lama, harus dilihat dulu di mana lingkungannya berada.

“Karena untuk Syiah yang di Sampang itu sudah bertobat. Menurut saya, itu lebih bagus, karena tentu kearifan lokal ini harus kita perhatikan,” ujarnya.

“Kalau memang di situ mereka mau kembali rukun, maka tidak perlu kita mengutak-atik kembali,” tegas Kiai Safruddin.

Begitu pula ketika ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurut Kiai Safruddin, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat menginfrmasikan bahwa Ahmadiyah di NTB sudah “bersepakat untuk tidak sepakat”.

“Artinya mereka warga sana sudah bisa menerima Ahmadiyah. Menurut mereka ya tetap Ahmadiyah, tidak bisa digolongkan sebagai agama Islam karena nabinya berbeda, Mirza Ghulam Ahmad,” katanya.

“Jadi andaikata ini luka, luka-luka yang sudah mulai mengering ini tidak usah kita korek-korek kembali, karena kearifan lokal itu sudah bisa menerima,” ujarnya.

Ketika kearifan lokal sudah bisa menerima, maka mereka yang punya otoritas di Jakarta secara nasional bisa mengambil hikmah dari situ.

Namun Gus Yaqut kemudian meluruskan bahkan membantah kalau dirinya tidak pernah mengatakan akan mengafirmasi Syiah-Ahmadiyah.

“Tidak ada pernyataan saya melindungi organisasi atau kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Sikap saya sebagai Menteri Agama melindungi mereka sebagai warga negara,” tegasnya, seperti dikutip sejumlah media online.

» Baca Berita Terkait Gus Yaqut