Sabtu, 21 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Kiai Miftachul Akhyar Mundur, MUI Jatim Layangkan Nota Keberatan

Berita Terkait

KEBERATAN: KH Mutawakkil Alallah, MUI Jatim keberatan dengan pengunduran diri KH Miftachul Akhyar. | Foto: IST
KEBERATAN: KH Mutawakkil Alallah, MUI Jatim keberatan dengan pengunduran diri KH Miftachul Akhyar. | Foto: IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pernyataan mundur KH Miftachul Akhyar sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) direaksi MUI Jatim yang secara tegas menyatakan keberatan.

“Dewan Pimpinan MUI Jatim menyampaikan nota keberatan dan ketidaksetujuan atas pernyataan pengunduran diri tersebut,” kata Sekretaris Umum MUI Jatim, Prof Akh Muzakki, Minggu (13/3/2022).

Nota keberatan dituangkan dalam surat MUI Jatim nomor A-13/DP-P/III/2022  tertanggal 12 Maret 2022 yang ditandatangani Ketua Umum MUI Jatim, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah dan Prof Akh Muzakki.

Dalam nota keberatan disampaikan sejumlah pertimbangan, di antaranya, pertama, surat MUI Jatim kepada MUI nomor 162/MUI/JTM/XII/2021 tertanggal 29 Desember 2021 tentang permohonan kepada Ketum MUI agar tidak mundur dari jabatannya.

Kedua, aspirasi di lapangan yang menunjukkan keberatan atas pernyataan pengunduran diri Kiai Miftach. Ketiga, kepentingan kemaslahatan yang lebih besar bagi agama, bangsa, dan negara.

Keempat, MUI masih memerlukan sosok Kiai Miftach untuk jabatan ketua umum yang mumpuni yang mampu merekatkan dan memperkuat persatuan serta kesatuan umat dan bangsa.

Sebelumnya, pernyataan mundur Kiai Miftach cukup mengejutkan sejumlah pihak. Di internal kepengurusan MUI pun mendapat reaksi keberatan.

Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas bahkan menulis surat terbuka yang ditujukan kepada jajaran PBNU dan warga NU agar mengikhlaskan Kiai Miftach yang juga Rais Aam PBNU tetap mengemban amanah di MUI.

“Beliau, Pak KH Miftachul Akhyar, kami pilih untuk menjadi ketua umum kami di MUI dengan suara bulat tanpa ada lonjong sedikitpun,” katanya.

Menurutnya, Kiai Miftach adalah tokoh dan ulama serta pemimpin yang sangat rendah hati yang dibutuhkan dan diharapkan bisa mempersatukan umat.

“Tapi herannya saya, mengapa NU tidak membolehkan dan merelakannya bagi melaksanakan tugas suci dan mulia tersebut, sehingga saya benar-benar jadi bingung sendiri dibuatnya,” kata tokoh Muhammadiyah tersebut.

» Baca berita terkait PWNU Jatim. Baca juga tulisan terukur lainnya Retna Mahya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -