Khofifah: Hari Santri adalah Komitmen Fatwa Resolusi Jihad!

HARI SANTRI: Peringatan HSN 2019 di Mapolda Jatim, pesantren adalah laboratorium perdamaian. | Foto: IST
HARI SANTRI: Peringatan HSN 2019 di Mapolda Jatim, pesantren adalah laboratorium perdamaian. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menuturkan, Hari Santri Nasional (HSN) adalah komitmen fatwa Resolusi Jihad dari para kiai dalam komando Rais Akbar PBNU saat itu, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari.

Resolusi Jihad menghukumi fardu ‘ain untuk bela negara. Para kiai kemudian memberikan fatwa bahwa membela dan mempertahankan  kemerdekaan RI adalah fardu ‘ain, kewajiban yang melekat pada setiap orang.

“Itulah yang kita peringati pada Hari Santri. Kalau detik-detik diumumkannya fatwa Resolusi Jihad pada banyak sejarah kira-kira pukul 20.30 WIB,” kata Khofifah usai menjadi inspektur upacara peringatan HSN 2019 di Lampangan Mapolda Jatim, Surabya, Selasa (22/10/2019).

Turut menghadiri upacara yakni Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan; Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Wisnoe Prasetija Boedi; Ketua MUI Jatim, KH Abdusshomad Buchori; Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar, Ketua PW Muhammadiyah Jatim, KH Saad Ibrahim dan Forkopimda lainnya, pengasuh pondok pesantren, serta ribuan santri dan prajurit TNI.

Maka, lanjut Khofifah, Pemprov Jatim mengeluarkan Surat Edaran (SE) Gubernur Jatim untuk mengheningkan cipta selama 60 detik pada pukul 08.00 WIB dan do’a bersama di pesantren pukul 20.30 WIB atas  dasar Keppres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

“Jadi ada pagi, ada malam. Supaya santri-santri bersama berdoa untuk arwah syuhada dan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan RI, serta doa untuk keselamatan bangsa,” ujar Khofifah.

Sehari sebelumnya, Khofifah juga menghadiri peringatan HSN 2019 yang digelar Lembaga Pendidikan Khadijah Surabaya. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Syeikh Afifuddin Al Jailani, cicit Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani.

Laboratorium Perdamaian

Peringatan HSN tahun ini mengambil tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Dalam amanat tertulis Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin disampaikan, isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian.

Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lil alamin. Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural.

Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi  merawat perdamaian dunia.

» Baca Berita Terkait Hari Santri Nasional