Supriyo, Santri yang Peduli Situs Kuno dan Benda Purbakala

PERAN SANTRI: Supriyo, santri yang peduli situs huno dan benda purbakala. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
PERAN SANTRI: Supriyo, santri yang peduli situs kuno dan benda purbakala. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR

LAMONGAN, Barometerjatim.com – Mungkin tak banyak yang tahu. Di balik terungkapnya keberadaan sebagian besar situs kuno dan benda purbakala di wilayah Kabupaten Lamongan selama ini, ternyata ada peran besar sosok santri.

Dialah Supriyo, warga Desa Klagensrampat, Kecamatan Maduran, Lamongan, yang kini menjabat sebagai ketua Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (PC Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Lamongan.

Pria kelahiran 1975, anak pertama pasangan Harmaji dan Kastiyem tersebut merupakan santri alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fattah, Siman, Kecamatan Sekaran, Lamongan.

Nama Supriyo, bagi sejumlah kalangan di Lamongan, sebenarnya tidak asing lagi. Mereka mengenal pria dengan enam orang anak itu sebagai tokoh aktivis pelestari benda purbakala dan pemerhati sejarah budaya.

Sejumlah arkeolog di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan juga mengakui peran dan andilnya dalam setiap penemuan, serta pengungkapan sebagian besar situs benda purbakala atau benda cagar budaya di wilayah Lamongan.

Mulai dari penemuan situs Candi Slumpang di Desa Siser, Kecamatan Laren, hingga penemuan situs Candi atau Vihara Pataan yang baru saja di ekskavas BPCB Trowulan, serta situs benda purbakala lainnya.

Komitmen dan dedikasinya yang tinggi terhadap pelestarian benda purbakala atau cagar budaya, mengantarkan Supriyo memperoleh penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

12 Oktober lalu, saat peringatan Hari Museum Nasional, Supriyo menerima anugerah penghargaan sebagai pelaku pelestari cagar budaya di tingkat nasional yang diserahkan Mendikbud, Muhadjir Effendi.

“Penghargaan ini kado buat kami di Hari Santri Nasional 2019,” kata Supriyo yang juga Presedium Komunitas Pelestari Benda Cagar Budaya dan Sejarah Jatim saat ditemui Barometerjatim.com di kantor PCNU Lamongan, Senin (21/10/2019).

Kami yang dimaksud Supriyo, yakni para warga, aktivis, maupun tokoh yang selama ini ikut membantu melestarikan dan menjaga keberadaan situs benda purbakala agar tidak rusak dan punah.

Sebagai santri, dia merasa memiliki tanggung jawab dalam semua dimensi kehidupan, termasuk ikut serta melestarikan sejarah dan budaya. Hal itu sekaligus wujud partisipasi membangun sumber daya manusia dan generasi penerus yang andal dan unggul ke depannya.

“Santri itu dididik tidak hanya tentang ilmu agama, berbagai ilmu dalam sendi kehidupan juga diajarkan,” katanya.

“Sehingga, sebagai santri, nantinya mampu berkiprah dalam segala dimensi kehidupan dan tidak menjadi santri yang gagap menyikapi sesuatu,” imbuhnya.

Jaga Peninggalan Sejarah

PENGHARGAAN: Supriyo, menerima penghargaan dari Mendikbud, Muhadjir Effendi. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
PENGHARGAAN: Supriyo, menerima penghargaan dari Mendikbud, Muhadjir Effendi. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR

Di momen Hari Santri Nasional (HSN) 2019 ini, Supriyo mengajak para santri dan masyarakat Lamongan untuk ikut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah, terutama pada masa peralihan perkembangan Islam di Lamongan yang kondisinya masih memprihatinkan.

“Banyak peninggalan sejarah Islam kondisinya memprihatinkan, termasuk makam-makam kuno penyebar Islam yang tanpa perawatan, seperti makam Ronggo Abu Amin yang merupakan tokoh pemimpin Lamongan sebelum Ronggo Hadi,” tuturnya.

Dia juga menyampaikan, perlunya pelestarian dan upaya serius untuk mendalami dan menggali peninggalan sejarah Islam di Lamongan,

“Banyak juga manuskrip-manuskrip sejarah Islam, seperti serat kuno yg diajarkan oleh para wali dan ulama terdahulu yang belum terbaca dan belum diterjemahkan. Misalnya Serat Yusuf, Serat Ambiyak, dan serat lainnya,” terangnya.

» Baca Berita Terkait Hari Santri Nasional