Hadiri Deklarasi Kartika, Ketua PWNU Jatim Disorot Gerindra!

PILBUP LAMOANGAN: KH Marzuki Mustamar (dua dari kiri), hadiri deklarasi Kartika-Sa'im yang akan diusung PKB-PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
PILBUP LAMOANGAN: KH Marzuki Mustamar (dua dari kiri), hadiri deklarasi Kartika-Sa’im yang akan diusung PKB-PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sabtu (15/8/2020) lalu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, KH Marzuki Mustamar hadir dalam deklarasi Kartika Hidayati-Sa’im yang bakal diusung koalisi PKB dan PDIP di Pilbup Lamongan.

Tak sekadar hadir memberikan dukungan, Kiai Marzuki bahkan membaiat Ketua DPC PKB Lamongan, Abdul Ghofur agar mematuhi keputusan DPP PKB yang lebih memilih Kartika ketimbang kandidat lain yang juga kader NU, Sholahuddin alias Kaji Sholah.

Seperti diketahui, sejak awal PKB Lamongan memang lebih memilih Kaji Sholah. Bahkan mengusulkannya secara resmi ke DPP lewat SK DPC PKB Lamongan Nomor 0192/SK/DPC-02/IV/B.1/X/2019 agar Aspri Wapres KH Ma’ruf Amin itu diberi rekomendasi.

Lantas, apa reaksi Parpol lain yang kadernya juga berisi warga NU terkait kehadiran Kiai Marzuki dalam deklarasi Kartika-Sa’im? Gerindra, misalnya. Meski menyorot kehadiran Kiai Marzuki, Parpol besutan Parbowo Subianto itu tak kaget, karena langkah mendukung PKB secara terbuka bukan kali ini saja dilakukan.

“Saya menghormati pilihan ketua PWNU Jatim untuk memberikan dukungan terbuka kepada PKB, dan ini bukan pertama kalinya, sudah sering beliau lakukan,” kata Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad, Kamis (20/8/2020).

Sadad yang juga wakil ketua DPRD Jatim menilai, dukungan terbuka Kiai Marzuki terhadap PKB lebih pada soal kenyamanan (comfortable) dalam membangun relasi.

“NU tidak akan menjadi rendah karena tindakan pengurus. NU iki sing njogo Pengeran Yang Maha Kuasa.”

“Jika beliau merasa mendapatkan kenyamanan di sana (di PKB), apa salahnya? Mungkin rasa nyaman itu tidak beliau rasakan di partai-partai lain, termasuk di Gerindra. Jadi sebenarnya ini soal personal feeling,” katanya.

“Saya juga menghormati langkah yang diambil PKB menghadirkan beliau. Menurut saya biasa saja dan wajar,” sambung Sadad yang pernah menjadi anggota DPRD Jatim dari PKB, Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), sebelum akhirnya berlabuh di Gerindra.

Lagi pula, lanjut Sadad, setiap Parpol akan berusaha membangun persepsi kepada publik, bahwa mereka dekat atau mendapatkan dukungan dari tokoh penting.

“Tentu, beliau tokoh penting, dengan posisinya sebagai ketua tanfidziyah PWNU,” ucap politikus berlatar belakang NU dan masih keluarga Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogiri, Pasuruan tersebut.

Tapi melihat status Kiai Marzuki yang ketua PWNU Jatim, apakah dukungan terhadap calon tertentu di kontestasi Pilkada tidak merendahkan NU yang tidak berpolitik praktis?

“NU tidak akan menjadi rendah karena tindakan pengurus. NU iki sing njogo Pengeran Yang Maha Kuasa (NU yang menjaga Allh Swt),” sergah Sadad.

Atau tidak sekalian NU kembali menjadi Parpol, biar warna hijaunya tetap terlihat jelas dan tidak ‘abu-abu’ seperti sekarang?

“Saya kira ini bukan masalah NU secara jam’iyah (organisasi). Ini hanya soal perspektif politik dari personalia pengurus di dalam NU,” katanya.

“Memang, sebaiknya jika ada pengurus yang tidak bisa mengendalikan ‘syahwat’ politik praktis, sebaiknya meninggalkan kepengurusan NU dengan menjadi pengurus partai,” tegasnya.

Gerindra sendiri, di Pilbup Lamongan 2020, resmi memberikan dukungannya untuk pasangan Yuhronur Efendi-Abdul Rouf.

“Surat keputusan sudah diserahkan kepada paslon tersebut di kediaman KH Abdul Ghofur Sunan Drajat, Paciran, Lamongan. Beliau adalah salah satu pendiri Partai Gerindra,” terang Sadad.

» Baca Berita Terkait Pilbup Lamongan