Eks Waketua Ansor Surabaya: Petahana Tak Punya Prestasi!

ANSOR SURABAYA: Yusub Hidayat, minta petahana tak calonkan diri lagi karena tak punya prestasi. | Foto: Barometerjatim/ROY HS
ANSOR SURABAYA: Yusub Hidayat, minta petahana tak calonkan diri lagi karena tak punya prestasi. | Foto: Barometerjatim/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Minggu (28/2/2021), GP Ansor Surabaya akan memilih ketua lewat Konferensi Cabang (Konfercab). Hingga kini muncul tiga kandidat, yakni Faridz Afif (petahana), M Mundir (ketua Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor) serta Abdul Holil (sekretaris).

Akankah Afif kembali memimpin, atau Ansor Surabaya bakal memiliki nakhoda baru lewat M Mundir maupun Abdul Holil?

Wakil Ketua PC GP Ansor Surabaya periode 2003-2007, Yusub Hidayat berharap peserta Konfercab mencari dan memilih figur yang tidak gagal, baik dalam menjaga moral maupun kejujuran.

“Kita butuh pemimpin yang jujur, pemimpin yang memperhatikan organisasi, bukan memimpin untuk diri sendiri. Sebab, Ansor ini kan organisasi pengkaderan, harapannya cikal bakal menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (NU),” katanya, Kamis (25/2/2021).

Karena itu, figur yang diharapkan memimpin Ansor Surabaya yakni punya kealiman, punya waktu mengurus organisasi, mampu merawat jamiyah, bukan merawat diri sendiri.

Lantas, dari kandidat yang ada, siapa yang layak? “Petahana sah-sah saja maju kalau punya prestasi, tapi kalau enggak punya prestasi ya jangan memaksakan diri. Lebih baik Afif menyerahkan kepada kader yang lain,” katanya.

Apalagi, selama satu periode memimpin Ansor Surabaya, Yusuf melihat petahana tak punya prestasi. “Tidak ada prestasi sama sekali, Afif tidak ada prestasi sama sekali. Serahkan kepada kader yang lain, tahu diri,” katanya.

“Petahana sah-sah saja maju kalau punya prestasi, tapi kalau enggak punya prestasi ya jangan memaksakan diri.”

Menurut Yusuf, banyak hal yang seharusnya dikerjakan petahana tapi tidak jalan. Mulai soal pembenahan organisasi, proses pengkaderan mulai PAC hingga ranting, hingga komunikasi dengan NU sebagai organisasi induk.

Kritik keras terhadap petahana ini, tandas Yusub yang juga bendahara Ansor Surabaya periode 2007-2011, bukan karena dirinya mendukung salah satu calon.

“Saya tidak mendukung siapa-siapa, tapi saya sebagai mantan pengurus sangat prihatin melihat perjalanan Ansor Surabaya saat ini,” katanya.

Yusub membandingkan Ansor Surabaya dengan cabang lain yang disebutnya lebih dinamis. “Surabaya ini tidak dinamis, hanya membangun pencitraan saja. Tapi proses pengkaderan enggak jalan,” tandasnya.

» Baca Berita Terkait Ansor Surabaya