Senin, 05 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Direktur SSC: Keris Itu Bentuk Lamaran Prabowo untuk Khofifah, Kereta Kencananya Gerindra!

Berita Terkait

LAMARAN: Keris dari Prabowo untuk Khofifah, dinilai pakar sebagai bentuk lamaran. | Foto: Barometerjatim.com/IST
LAMARAN: Keris dari Prabowo untuk Khofifah, dinilai pakar sebagai bentuk lamaran. | Foto: Barometerjatim.com/IST
- Advertisement -

DALAM kunjungannya ke Grahadi, Jumat (25/2/2022) malam, Sekjen DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani memberikan dua cendera mata untuk Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Yakni buku tentang kisah militer karya Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto serta sebuah keris yang di dalam boksnya disertai stiker Gerindra.

Muzani menuturkan, keris tersebut lambang pamor, lambang kekuatan. Lewat simbol itu, Gerindra berharap Khofifah bisa memimpin Jatim lebih baik lagi. Namun Direktur Surabaya Survey Center (SSC) yang juga Pakar Komunikasi Politik, Mochtar W Oetomo berpandangan lain. Keris, simboliknya adalah bentuk lamaran politik Prabowo kepada Khofifah untuk maju di Pilpres 2024.

“Kalau dimaknai dari hadiah keris itu sepertinya memang serius, Prabowo ingin melamar Khofifah sebagai wakilnya,” katanya. Barikut kutipan wawancara Barometerjatim.com dengan pakar yang juga mantan dalang tersebut, Minggu (27/2/2022).

Apa makna cendera mata berupa keris yang diberikan Prabowo lewat Sekjen Gerindra Ahmad Muzani kepada Khofifah?
Keris itu kan terdiri dari dua, bilah atau curigo dalam bahasa Jawa dan tempatnya atau warongko. Bilah keris itu simbol linggo melambangkan laki-laki, warongko itu yoni melambangkan perempuan.

Maknanya, itu penyatuan antara bilah dan wadah keris, curigo sama warongko, linggo sama yoni. Penyatuan antara laki-laki dan perempuan. Jadi bahasa simboliknya, kalau Probowo dan Khofifah bersatu, itu akan menjadi pusaka dengan kekuatan yang ampuh, yang dahsyat.

Sebab, bilah keris saja kalau tidak ada warongko-nya, tidak ada tempatnya, itu kan berbahaya, bisa melukai orang lain. Tapi wadah saja, tanpa bilah keris, kan tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki makna, maka harus disatukan.

Dan itu relevan manakala dua kali dalam kontestasi Pilpres Prabowo kalah dari Jokowi, karena selalu gagal memenangkan Jawa Timur. Maka pilihan untuk mengambil warongko, mengambil wakil, mengambil jodoh dari Jatim, perempuan pula, itu menjadikan menarik dan strategis.

Secara kultur Jawa, apakah ada historis antara Prabowo dan Khofifah?
Kalau Prabowo kan peranakan Solo-Manado, sesama Jawa sebenarnya, penyatuan Jawa Tengah-Jawa Timur kalau kultural. Tapi sesungguhnya itu tidak terlalu signifikan, lebih pada Prabowo representasi tentara, panglima. Bilah keris itu kan panglima, kemudian Khofifah simbol religius-NU (Nahdlatul Ulama). Jadi lebih ke perkawinan antara nasionalisme dan NU.

Di dalam kontestasi politik, simbolisasi nasionalisme sejauh ini, kalau tentara kan selalu direpresentasikan sebagai simbol nasionalsime. Tapi secara kultural, ketika seorang laki-laki memberikan keris pada seorang perempuan, itu sebuah bentuk lamaran.
Kayaknya, kalau dimaknai dari hadiah keris itu sepertinya memang serius, Prabowo ingin melamar Khofifah sebagai wakilnya.

Lamaran politik ya?
Ya lamaran politik, terlepas kemudian posisi keduanya sedang sendiri-sendiri ya, he.. he.. he..

Jadi anda melihat pemberian keris tersebut bukan semata-mata cendera mata?
Bukan. Begitu membaca berita Prabowo memberi cendera mata keris, saya langsung wah ini serius.

Kendati keris tersebut tidak diberikan Prabowo secara langsung  kepada Khofifah?
Dalam tradisi lamaran kan memang begitu. Harus orang orang lain, enggak boleh dia sendiri, secara kultural begitu.

KENDARAAN SIAP: Mochtar W Oetomo, Prabowo siapkan Gerindra sebagai ‘kereta kencana’ untuk Khofifah di 2024. | Foto: IST
KENDARAAN SIAP: Mochtar W Oetomo, Prabowo siapkan Gerindra sebagai ‘kereta kencana’ untuk Khofifah di 2024. | Foto: IST

Soal di boks tempat keris ada stiker Gerindra, apa maknanya?
Stiker Gerindra itu bisa dimaknai kendaraannya, tiketnya nanti. Kalau di perkawinan itu kereta kencananya, itu namanya Gerindra. Berarti serius itu menurut saya.

Di luar makna pemberian keris, bagaimana dengan realitas elektabilitas atau faktor rasional lainnya?
Kalau dari elektabilitas tentu potensial ya, di samping ceruk suara Prabowo itu relatif sudah paten karena terbangun dalam dua kontestasi Pilpres. Maka dalam berbagai survei relatif suara Probowo kan stabil meskipun juga stagnan, tidak naik-naik karena loyalis Prabowo ya itu, sudah terbangun dalam dua kali Pilpres.

Artinya untuk meningkatkan itu kan perlu warna baru, ceruk baru, sosok baru, nah itu bisa diwakili oleh Khofifah. Mengapa? Satu, perempuan. Dua, Jatim. Tiga, NU. Jadi itu dirasa bisa mengangkat, menambahi dari sisi elektabilitas.

Justru menurut saya, persoalannya barangkali nanti adalah pada soal partai pengusung, karena Gerindra kan tidak bisa sendirian. Kira-kira dengan argumen apa kalau ini bisa berpasangan, Gerindra meyakinkan partai lain untuk bergabung mengusung.

Baik. Khofifah butuh tiga kali bertarung di Pilgub Jatim untuk menjadi gubernur sementara Prabowo sudah dua kali gagal di Pilpres, apakah ini juga pertanda?
Bisa jadi seperti itu. Tuah Khofifah diharapkan bisa dibawa dalam kontestasi Pilpres untuk ketiganya Prabowo menang.

BUKU PRABOWO: Selain keris, Khofifah juga menerima buku tentang kisah militer karya Prabowo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BUKU PRABOWO: Selain keris, Khofifah juga menerima buku tentang kisah militer karya Prabowo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca berita terkait Gerindra. Baca juga tulisan terukur lainnya Roy Hasibuan.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -