Catatan Gus Hans: Jabal Rahmah dan Gersangnya Keramahan

| Foto: Barometerjatim.com/DOK
| Foto: Barometerjatim.com/DOK

Oleh: KH Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans)*

SALAH SATU “ritual extra” para peziarah ke Tanah Suci adalah ke Jabal Rahmah. Konon di tempat inilah bertemunya Adam dan Hawa, tapi yang jelas lokasi ini dikunjungi karena masuk wilayah Arafah yang menjadi keharusan bagi jamaah haji untuk wukuf di sini karena “Haji adalah Arafah”.

Ibnu Faris menyebutkan bahwa kata rahmah yang terdiri dari fonem ra, ha, dan mim, pada dasarnya menunjuk kepada arti “kelembutan hati”, “belas kasih”, dan “kehalusan”.

Tugu ini memang pas berada di tanah Arab yang karakter masyarakatnya cenderung keras. Bayangkan saja bagaimana jika Nabi Muhamad Saw yang lemah lembut ini tidak ‘diturunkan’ Allah Swt di negeri tandus ini?

Tipikal keras yang dimiliki oleh sebagian orang Arab ini, entah karena kondisi alamnya yang keras dan tandus atau pola konsumsi yang lebih banyak mengonsumsi daging daripada sayuran? Wallahualam.

“Jangan belajar keramahan (hospitality) di negeri Arab”. Ya, itu yang ada dalam benak saya dan insyaallah apa yang saya pikirkan ini berdasar.

Sejak pertama kali menginjak negeri ini, kesan “tidak butuh tamu” sudah dimunculkan oleh petugas imigrasi dan kesan ini tidak saya temukan ketika naik business class. he.. he..

Kondisi bandara yang ‘asal asalan’ jika dibanding dengan gambaran kemewahan keluarga raja, menunjukkan kesan mereka tidak butuh kita toh kita juga pasti datang karena ada haramain. Mereka lupa bahwa para tamu Allah pun berpikir: Andaikan negerimu tak ada haramain, tak sudi rasanya aku ke sini.

“Dunia pariwisata tidak akan bisa lepas dari “jiwa rahmah”, kasih sayang dan lemah lembut.”

Di saat ke Bandara Jeddah sendirian by taxi dari Makkah saya salah masuk terminal. Jangan bayangkan ada shuttle bus, apa lagi skytrain untuk menghubungkan antarterminal yang berdekatan — tapi terpisah pagar.

Saya harus mencari taksi lagi menuju terminal yang jaraknya sekitar 1 kilometer, tapi harus ke luar dulu sekitar 5-6 kilometer dengan tarif taksi penawaran pertama 200 SAR.

Untung ada taksi liar yang bisa diajak bernegosiasi dan akhirnya dapat 1/4 dari harga umum. Namun setelah naik taksi dengan mobil yang ber-sunroof, di tengah jalan berhenti dan memasukkan penumpang lagi. Gubrak! Kayak angkot nih, ya sutra lahhh..

Pemandangan ini jauh berbeda dengan di Dubai atau Qatar. Mereka sepertinya belajar banyak tentang hospitality dan tourism. Mereka sadar betul ketersediaan minyak pasti ada batasnya, tapi jasa melayani hati manusia tak berbatas selama matahari masih menyinari bumi. Betapa pariwisata sudah menjadi devisa utama dari berbagai negara.

Dunia pariwisata tidak akan bisa lepas dari “jiwa rahmah”, kasih sayang dan lemah lembut. Bukankah nabi pun memerintahkan kita untuk menghormati tamu? Tapi kenapa yang lebih banyak menerapkan anjuran-anjuran nabi itu justru bukan ummatnya?

Makin sayang dan cinta Indonesia dengan kultur ramahnya. Semoga keramahan warga Indonesia ini cerminan dari nilai-nilai Islam yang salamah dan penuh kerahmatan, sesuai dari asal kata Islam dari aslm yang artinya damai dan salam yang berarti sejahtera.

*Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Jombang

» Baca Berita Terkait Gus Hans