SK PCNU Surabaya Tak Jelas, Gus Hans Cium Ada Faktor X!

FAKTOR X: Gus Hans, cium ada faktor x terkait SK kepengurusan PCNU Surabaya yang tak kunjung turun. | Foto: Barometerjatim/ROY HS
FAKTOR X: Gus Hans, cium ada faktor x terkait SK kepengurusan PCNU Surabaya yang tak kunjung turun. | Foto: Barometerjatim/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya sudah digelar 6 Maret 2021. Penyelenggaranya pun PBNU lewat karteker yang diketuai KH Robikin Emhas.

Hasilnya, KH Muhibbin Zuhri kembali terpilih menakhodai PCNU Surabaya. Kepengurusan masa khidmat 2021-2026 juga sudah terbentuk. Tapi tujuh bulan berselang SK kepengurusan tak kunjung dikeluarkan PBNU, ada apa?

Mustasyar PCNU Surabaya, KH Zahrul Azhar Asumta mencium ada faktor x terkait SK yang tak kunjung turun, mengingat tak ada sesuatu yang dilanggar sedikit pun oleh PCNU Surabaya.

“Ada faktor x yang menurut saya perlu keluasan hati, penuh kepahalawanan, sehingga ini bisa diselesaikan dengan baik,” kata kiai muda yang akrab disapa Gus Hans tersebut, Kamis (18/10/2021).

‘Pahalawan’ yang dimaksud Gus Hans, yakni segala sikapnya berpikir tentang akhirat yang berdampak pada pahala. Bukan sosok sosok ‘Paklawan’ alias disepak kalau dianggap lawan.

Bagi Gus Hans, kalau ada konflik di internal NU, seharusnya diselesaikan dengan cara tabayyun, saling mengkonfirmasi permasalahannya di mana.

“Tapi mungkin ini ada sesuatu faktor x yang melibatkan elite, jadi ya masih belum selesai,” tandas pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang tersebut.

Mestinya, lanjut Gus Hans, PBNU memikirkan bagaimana NU berperan dalam dunia global. Berperan bagaimana menjadi perdamaian dunia, dan seterusnya, sehingga terlalu kecil kalau mengurus masalah hanya sekelas pengurus cabang.

“Berdirinya NU itu kan karena isu global. Ketika Wahabi mau membongkar situs-situs nabi dan seterusnya. Karena ulama dahulu itu membutuhkan lembaga, sehingga datang ke Makkah itu ditanya kamu itu mewakili siapa?” papar Gus Hans.

“Maka akhirnya mendirikan NU, Komite Hijaz itu. Nah Komite Hijaz itu mewakili siapa, kan harus membawa organisasi,” sambungnya.

Artinya apa? NU didirikan, kata Gus Hans, bukan karena kepentingan keluarga, golongan, atau kepentingan orang per orang, tetapi kepentingan umat Islam seluruhnya.

“Dan yang menikmati itu (perjuangan NU lewat Komite Hijaz) seluruh umat Islam. Bisa sambang ke makamnya nabi, dan situs-situs masih ada,” jelasnya.

“Bayangkan kalau tidak ada Komite Hijaz pada saat itu. Artinya pengurus-pengurusnya (NU) ini mestinya berpikirlah level global, bukan terlalu lokal seperti ini,” tuntas Gus Hans.

» Baca Berita Terkait PCNU Surabaya