BNPB: Tak Usah Panik! Jatim Sedang Kita Genjot Testingnya

PERKEMBANGAN BAIK: Dody Ruswandi, tak masalah kasus Corona di Jatim tinggi biar cepat selesai. | Foto: IST
POSITIF TINGGI MAKIN BAIK: Dody Ruswandi, tak masalah kasus Corona di Jatim tinggi biar cepat selesai. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kasus positif Corona (Covid-19) di Jatim kian meroket! Bahkan per Sabtu (20/6/2020), penambahannya tercatat tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia.

Dari update yang dilakukan Gugus Tugas Pusat Penanganan Covid-19, Jatim menempati posisi pertama penambahan positif dengan 394 kasus. Disusul DKI Jakarta (180), Sulawesi Selatan (112), Jateng (98) dan Kalimantan Selatan (83).

Namun Plt Deputi Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dody Ruswandi menegaskan kalau kenaikan kasus Covid-19 di Jatim bukanlah hal yang mengkhawatirkan, tapi justru menunjukkan perkembangan baik.

Menurutnya, apa yang terjadi di Jatim saat ini sama dengan yang dihadapi wilayah Jabodetabek pada Maret dan April lalu. Saat itu rumah sakit (RS) penuh dan banjir kepanikan masyarakat, sementara peralatan kesehatan terbatas.

“Persis! Semua RS penuh dan masyarakat semua panik, peralatan kesehatan semuanya terbatas,” katanya dalam webinar bertajuk Internasional Kolaborasi Pentahelix Menuju Tata Kenormalan Baru.

“Dan di dalam keterbatasan itu kita diserang oleh Covid-19 ini. Tetapi secara bertahap kapasitas kita mulai meningkat,” sambungnya.

“Jatim sedang kita genjot testingnya. Tak usah panik! Makin cepat kita selesaikan, makin cepat selesai puncak positif.”

Tapi dalam kondisi darurat tersebut, lanjut Dody, gerak cepat dilakukan gugus tugas pusat antara lain dengan mengerahkan seluruh sumber daya dan kini membuahkan hasil.

“Sekarang sudah ada hampir 158 laboratorium. Malah di Jatim dalam waktu tiga minggu terakhir ini, kami menambah banyak sekali alat PCR (Polymerase Chain Reaction),” katanya.

Karena itu, menurut Dody, sekarang persoalannya adalah bagaimana mempercepat peningkatan kapasitas yang tersedia. Termasuk belajar dari Jakarta dan Bodetabek yang kini mulai melandai.

RS tak lagi penuh, karena kapasitasnya makin meningkat. Manajemen RS rujukan juga sudah baik, dan masyarakat mulai sadar untuk melakukan isolasi mandiri. Sehingga, tidak semua orang yang positif masuk ke RS kecuali pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta.

“Hari ini rumah sakit di Jabodetabek tidak penuh. Saya yakin sebentar lagi Jatim juga akan begitu,” katanya.

Salah Maknai Positif

JATIM TERTINGGI: Penambahan positif Corona di Jatim tertinggi se-Indonesia per Sabtu (20/6/2020). | Grafis:IST
JATIM TERTINGGI: Penambahan positif Corona di Jatim tertinggi se-Indonesia per Sabtu (20/6/2020). | Grafis:IST

Widyaiswara utama BNPB tersebut menambahkan, banyak pihak yang salah mendefinisikan atau memaknai apa itu arti kenaikan positif Covid-19.

Dody lantas memberi gambaran, jika saat ini kasus positif di Indonesia mencapai 45.029, menurutnya jumlah itu masih sedikit jika dibandingkan dengan kapasitas laboratorium yang memang sangat terbatas.

“Harapannya kita akan mempercepat itu. Jadi enggak usah kaget kalau kita nanti akan naik sampai 100 ribu, enggak apa-apa. Itu adalah hasil tes. Kalau yang diinginkan misal enggak ada positif ya jangan dites, maka enggak akan ada yang positif itu,” ujarnya.

Jadi, lanjut Dody, “Jatim sekarang sedang kita genjot testingnya, itu akan memicu kenaikan angka positif. Tidak usah panik! Enggak masalah! Itu malah bagus. Makin cepat kita selesaikan testing ini, makin cepat selesai puncak positif.”

Namun yang perlu dijaga adalah masalah kuratif atau peningkatan kapasitas RS di Jatim. Kalau nanti ditingkatkan dan menunjukkan rujukan positif yang masuk ke RS maka harus diatur.

“Itu sudah dilakukan selama Maret dan April di Jakarta. Sehingga yang masuk rumah sakit rujukan memang yang berat saja,” jelasnya.

Gugus tugas pusat, bahkan telah membangun RS rujukan di Surabaya bagi pasien positif dengan kondisi sedang. Sementara bagi pasien dengan kondisi ringan bisa melakukan isolasi di rumah.

“Jadi ini menyangkut manajemen rumah sakit. Mudah-mudahan nanti tidak sampai masa puncaknya, sehingga nanti bisa diatur mana yang masuk ke rumah sakit mana yang tidak,” tuntas Dody.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona