Berjuang untuk Jamaah dan Imam Manaqib di Daerah Miskin

UNTUK JAMAAH-IMAM MANAQIB: Ra Fadil, tekad memperjuangkan jamaah dan imam manakib di daerah miskin lewat parlemen. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
UNTUK JAMAAH-IMAM MANAQIB: Ra Fadil Muzakki Syah, tekad memperjuangkan jamaah dan imam manakib di daerah miskin lewat parlemen. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SEJUMLAH kiai muda (gus atau lora) maju di Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. Satu di antaranya Achmad Fadil Muzakki Syah atau akrab disapa Lora Fadil, putra kiai ternama Pengasuh Ponpes Al Qodiri Jember, KH Achmad Muzakki Syah.

Ra Fadil nyaleg DPR RI lewat Partai Nasdem dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jatim III (Kabupaten Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso) setelah sebelumnya menjadi wakil rakyat di Senayan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2009-2014.

Sebagai pribadi, Ra Fadil sebenarnya sudah selesai dengan diri sendiri, punya ‘segala-galanya’ — termasuk tiga istri: Siti Aminah, Yeni Kurnia dan Novita Kusumaningrum — tanpa harus menjadi anggota DPR RI lagi. Terlebih dunia politik penuh warna hitam, rawan godaan dan jebakan.

Tapi Ra Fadil punya pandangan lain, ada kepentingan besar yang harus diperjuangkan. Berikut wawancara khusus Barometerjatim.com dengan kiai muda, yang turut berkontribusi besar atas kemenangan Khofifah-Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018 tersebut.

Ra Fadil, anda memilih maju Caleg DPR RI lewat Dapil Jatim III (Kabupaten Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso). Mengapa tidak lewat Dapil Jatim IV (Kabupaten Jember dan Lumajang)?
Pertama, karena memang di Dapil IV itu saya naruh kader dan dia incumbent. Selain ada beberapa kader lain yang juga saya taruh di Dapil IV. Daripada mengganggu mereka, saya pilih maju di Dapil Jatim III.

Pertimbangan kedua, karena di Dapil situ saya kan sudah pernah berkompetisi, bahkan dua kali. Jadi, insyaallah masyarakat sudah banyak yang tahu tentang sosok dan kiprah saya.

Baik. Bisa dibilang anda ini sudah selesai dengan diri sendiri dan punya ‘segala-galanya’, lalu apa yang anda cari dengan kembali menjadi wakil rakyat di Senayan?
He.. he.. Pertama, saya ingin memperjuangkan kepentingan internal, kepentingan para jamaah dan imam manakib, jamiyah kami.

Kedua, kepentingan masyarakat pada umumnya, khususnya di wilayah Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi. Terutama di dua kabupaten itu, Bondowoso dan Situbondo, masih banyak yang tertinggal. Padahal di sana banyak jamaah kami, jamaah manakib.

Tertinggal secara ekonomi, sosial atau bagaimana?
Ya secara ekonomi, sosial, pendidikan juga. SDM di sana masih di bawah jika dibanding kabupaten lain, maksudnya Bondowoso dan Situbondo ya. Kalau Banyuwangi, secara SDM, mungkin sama lah dengan kabupaten lain.

TAMU-TAMU AL QODIRI: Ra Fadil (kiri) mendampingi KH Ach Muzakki Syah (kanan) saat menerima silaturahim Khofifah dan Bupati Jember Faida. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TAMU-TAMU AL QODIRI: Ra Fadil (kiri) mendampingi KH Ach Muzakki Syah (kanan) saat menerima silaturahim Khofifah dan Bupati Jember Faida. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Dunia politik penuh warna hitam, tidak khawatir terjerat hal-hal negatif apalagi ada jamaah dan para imam manaqib di belakang anda?
Sebenarnya kekhawatiran itu tetap ada lah, karena apapun yang namanya sudah masuk sistem, itu rentan disangkutpautkan dengan hal-hal seperti itu. Cuma berdasarkan pengalaman lima tahun menjadi anggota DPR RI, kok saya bisa tanpa terlibat sedikit pun dengan hal-hal seperti itu.

Saya juga melihat banyak sekali celah yang bisa dilakukan anggota dewan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, golongannya, tanpa harus menyinggung hal-hal yang berbau korupsi, nepotisme, atau hal-hal negatif lainnya.

Cukup banyak peluang yang bisa dilakukan. Katakanlah kita dapat CSR (Corporate Social Responsibility) atau bantuan yang lain, itu ya murni harus kita kasihkan yang bersangkutan tanpa harus terpotong-potong. Tanpa harus ada embel-embel A B C seperti itu.

Kalau terlalu banyak gus atau lora tampil di panggung politik, apakah tidak rawan menggerus marwah pesantren itu?
Kalau dalam satu pesantren terlalu banyak yang terjun ke politik, memang bisa berdampak seperti itu. Di Jembar ini, misalnya, ada salah satu pesantren tua dan kiainya bisa dibilang tingkat nasional. Tapi anak turunnya ndak ada yang di pesantren, semuanya berpolitik, bekerja di pemerintahan, akhirnya pesantrennya ya seperti ndak jadi pesantren.

Tapi kalau di kami, Al Qodiri, kami itu empat bersaudara, tiga di antaranya jangankan menjadi pengurus partai atau terjun di partai, jadi pengurus di struktur NU (Nahdlatul Ulama) saja tidak. Murni mereka harus memikirkan pesantren, hidup di pesantren.

Cuma saya dengan Abuya (Kiai Muzakki) memang dipasrahkan untuk di bagian yang politik. Istilahnya menteri luar negerinya itu ada, he.. he.. Kita harus kompleks dan itu sudah diatur sedemikian rupa, sehingga kekhawatiran (marwah pesantren bakal tergerus) tidak berdampak pada Al Qodiri.

“Saya ingin memperjuangkan kepentingan para jamaah dan imam manakib, jamiyah kami, serta kepentingan masyarakat pada umumnya.”

Jadi di Al Qodiri dan jamaah manaqib seluruh Nusantara itu bagian politiknya memang dikasihkan ke saya. Contohnya di Pilgub Jatim lalu, itu yang berstatement, yang bisa mengumpulkan imam dan jamaah manaqib untuk mengajak memberikan dukungan di Pilgub ya hanya saya.

Dan kakak-kakak saya menyadari itu, jadi enggak ada bentrok. Misalnya oh ini yang lebih enak, enggak ada itu. Pembagian (perannya) jelas dan tujuannya sama. Ini demi kepentingan bersama, khususnya kepentingan pesantren dan jamaah serta imam manaqib.

Dan statement-statement anda di Pilgub Jatim lalu maupun soal politik cukup tajam..
Hehe.. he.. he..

PERTEMUAN DI TEBUIRENG: Ra Fadil di sela menghadiri pertemuan kiai se-Jawa Timur di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
PERTEMUAN DI TEBUIRENG: Ra Fadil di sela menghadiri pertemuan kiai se-Jawa Timur di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Bagaimana dengan mayoritas pesantren, apakah anda melihat juga ada pembagian peran seperti di Al Qodiri?
Saya ingin pesantren-pesantren yang lain juga seperti itu. Silakan terjun ke politik, silakan, tapi harus ada yang tetap di pesantren. Jangan semua mau meninggalkan tempatnya, apa yang menjadi ladangnya. Nanti bisa terbengkalai.

Adakah komunikasi secara khusus di antara para kiai muda, terkait upaya untuk bersama-sama menjaga marwah pesantren di tengah godaan politik?
Iya, sudah. Alhamdulillah, saya yang jarang aktif di Asparagus (Asosiasi Para Lora dan Gus) tapi kemarin saya diundang di Asparagus, khusunya di kabupaten ya.

Saya ngomong, silakan kalau memang mau terjun di politik, tapi Asparagus ini di luar politik, di luar kepentingan pribadi-pribadi. Akhirnya kita ngobrol bagaimana pesantren masing-masing berjalan, bagaimana ide-ide untuk NU, untuk Islam, khususnya Islam yang ada di Nusantara ini, supaya tetap ala Wali Songo, ala NU begitu.

Memang di Asparagus tidak ada strukturnya?
Ndak ada, karena Asparagus itu takut diperjualbelikan. Kalau ada struktur, nanti ujung-ujungnya ada ketua, anggota dan yang laku hanya ketuanya saja. Kalau ada struktur saya ndak akan datang ke Asparagus. Tanpa Asparagus pun saya sudah berjalan, nanti malah dijual-jual yang enggak sama.

***

Ra Fadil, di Pilgub Jatim lalu anda termasuk salah seorang kiai muda yang berandil besar memenangkan Khofifah-Emil, terutama di wilayah Tapal Kuda. Apakah kekuatan itu akan anda gerakkan untuk kepentingan di Pileg?
Terus terang, kami baru menggerakkan kekuatan secara penuh, terstruktur, itu baru dua kali. Saat Pilkada Jember sama kepentingan Bu Khofifah (Pilgub Jatim).

Baik di tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten, para jamaah dan imam manakib kita gerakkan dan setiap minggu selalu kita evaluasi. Nah, itu akan kita gerakkan kembali untuk kepentingan di 2019 ini.

Saya sendiri di Nasdem ini, termasuk sudah pamitan ke Ibu Gubernur terpilih, sudah atas restu beliau juga. Jadi di samping pakai kekuatan sendiri, saya sudah kulo nuwun kepada beliau, Bu Khofifah untuk bersinergi.

Adakah kesepakatan dengan Nasdem kalau anda juga berkewajiban mendukung pasangan Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin di Pilpres 2019?
Terus terang, secara pribadi, saya maju lewat Nasdem tidak ada kesepakatan seperti itu, kesepakatan pribadi yang harus memenangkan pasangan di Pilpres yang didukung partai kami. Cuma di partai memang diwajibkan untuk mendukung yang kebetulan incumbet, Bapak Jokowi.

Selain itu, saya ditaruh di Nasdem karena pilihannya harus di partai koalisi presiden, itu saja intinya. Kiai (Muzakki Syah) bilang: Ya pokoknya kamu harus masuk, karena ini sudah komitmen saya kepada Pak Jokowi, akhirnya saya ditaruh di Nasdem.

• Baca: Salam Satu Jari! Kiai Muzakki Istiqomah Dukung Khofifah-Emil

Tapi untuk pasti ke Bapak Jokowi ya belum lah. Kami juga masih menunggu saran dan arahan dari Bu Gubernur, karena selama ini kami sudah menjalin komunikasi secara baik, secara kekeluargaan dengan beliau.

Cuma untuk saat ini, Al Qodiri di Pilpres tidak ikut-ikut. Untuk pesantren kami, kekuatan kami, untuk Pilpres sampai saat ini Kiai belum memberi arahan, harus ke kanan atau ke kiri, itu belum.

DUKUNGAN UNTUK KHOFIFAH: Ra Fadil saat (kanan) mengumpulkan para imam manaqib se-Jatim di Ponpes Al Qodiri untuk mendukung Khofifah-Emil di Pilgub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
DUKUNGAN UNTUK KHOFIFAH: Ra Fadil saat (kanan) mengumpulkan para imam manaqib se-Jatim di Ponpes Al Qodiri untuk mendukung Khofifah-Emil di Pilgub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Kalau di Pilgub Jatim kemarin Al Qodiri bisa powerfull begitu?
Iya, kalau kemarin. Makanya kami sudah bilang, pergerakan kami, jamaah dan imam manakib, powerfull itu baru dua kali, di Pilbup Jember dan di Pilgub Jatim. Sebelumnya hanya person-person saja kita mendukung, tanpa menggerakkan roda yang kami punya.

Ngomong-ngomong, secara pribadi sudah ada yang mengajak bergabung untuk pemenangan di Pilpres?
Saya kemarin, terus terang kedatangan tamu, dan saya juga dipanggil ke Jakarta dengan putranya Pak Ma’ruf Amin. Dengan Pak Sandi (Sandiaga Uno) saya juga baik, jadi enggak ada masalah.

Kalau secara personal mendukung Jokowi atau Prabowo?
Kalau secara partai saya harus dengan Pak Jokowi. Kalau secara personal belum menentukan, karena semua apa kata Abuya (Kiai Muzakki) dan juga apa kata Bu Gubernur, masih tunggu arahan.

Bukankah Khofifah sudah memastikan berseiring dengan Jokowi di Pilpres?
Iya, tapi komunikasi khusus dengan saya belum, he.. he..

• Baca Berita Terkait Ponpes Al Qodiri, Pemilu 2019, Partai Nasdem