Selasa, 25 Januari 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Opini

Antara Gus Ipul dan Gus Yahya, Siapa Lebih Layak Pimpin NU?

Berita Terkait

Menanti Peran dan Kiprah Organisasi Alumni Pesantren

NU Urban, Membangkitkan NU dari Perkotaan

| Foto: Barometerjatim.com/DOK
| Foto: Barometerjatim.com/DOK
- Advertisement -

Opini Oleh: Purwanto M Ali*

SANGAT menarik untuk melihat dua figur yang saat ini menjadi sorotan publik berkaitan dengan kontestasi menjelang Muktamar NU. Dua figur yang dimaksud adalah Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Gus Ipul dikenal sebagai pendukung utama di balik pencalonan Gus Yahya sebagai calon Ketum PBNU. Bahkan, Gus Ipul yang selalu ‘pasang badan’ untuk kepentingan politik tersebut. Namun sesungguhnya siapa yang lebih layak menjadi calon Ketum PBNU di antara keduanya? Gus Ipul atau Gus Yahya?

Gus Ipul Lebih Berpengalaman

Dalam hal pengalaman sebagai aktivis organisasi, politisi, dan pejabat negara maka tidak ada satu orang pun yang meragukan pengalaman Gus Ipul. Dengan banyaknya pengalaman tersebut otomatis menunjukkan keluasan ilmunya dalam kepemimpinan. Bukankah pengalaman adalah sumber daripada ilmu?

Pengalaman organisasi Gus Ipul sangatlah runtut dan panjang. Pernah menjadi Ketua Komisariat HMI DKI Jakarta, Ketua Umum PP GP Ansor selama 12 tahun (1999-2011), Sekjen PKB dan Ketua PBNU. Serta pernah menduduki jabatan-jabatan seperti pada bidang keolahragaan, kepramukaan, dan di berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya.

Pengalaman Gus Ipul dalam politik dan pemerintahan, ia pernah menjadi anggota DPR RI Fraksi PDIP, anggota DPR RI Fraksi PKB, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal era Presiden SBY, Wakil Gubernur Jawa Timur dan Wali Kota Pasuruan.

Mungkin salah satu sejarah yang paling unik di republik ini adalah seorang anggota PDIP dan anggota DPR RI Fraksi PDIP bisa terpilih sebagai Sekretaris Jenderal PKB, dan pada Pemilu berikutnya terpilih sebagai anggota DPR RI Fraksi PKB. Dan sejarah paling unik tersebut adalah milik Gus Ipul.

Lalu bandingkan dengan pengalaman Gus Yahya. Publik mengenal Gus Yahya adalah saat ia menjadi juru bicara Presiden Gus Dur pada 1999-2001. Namun setelah Gus Dur lengser, dalam waktu sangat lama publik tidak mengetahui kiprah Gus Yahya, baik dalam kegiatan sosial maupun politik.

Sampai akhirnya dia muncul sebagai Katib Aam Syuriyah PBNU dan anggota Wantimpres menggantikan posisi KH Hasyim Muzadi yang telah wafat sebelumnya. Hanya itu track record Gus Yahya sebagai figur publik yang diketahui oleh masyarakat luas.

Dan pada tahun 2018 sosok Gus Yahya sempat ramai diperbincangkan oleh publik saat ia berkunjung ke Israel dan bertemu Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu serta sebagai pembicara pada event dialog internasional yang diselenggarakan oleh American Jewish Commitee (AJC) atau Komisi Yahudi Amerika.

Dengan melihat perbandingan tersebut, maka secara objektif dapat dinilai dan disimpulkan bahwa pengalaman sebagai aktivis organisasi, politik dan pemerintahan, Gus Ipul jauh berpengalaman dibandingkan dengan Gus Yahya.

Akar Ketokohan

Gus Ipul dengan pengalaman organisasi dan politik yang panjang menjadikannya memiliki akar yang sangat kuat dan luas. Ia pernah sebagai pimpinan HMI DKI Jakarta, tentunya ia punya akar pada jaringan KAHMI Conection yang kuat. Dan dalam sejarah perpolitikan sejak era Orde Baru sampai sekarang eksistensi KAHMI cukup diperhitungkan.

Ia pernah menjadi Ketua Umun PP GP Ansor selama 12 tahun, tentulah akarnya begitu menghujam di kalangan alumni Ansor di seluruh Indonesia. Dan sekarang sebagian besar pimpinan NU hampir di semua PWNU dan PCNU se-Indonesia dijabat oleh alumni Ansor.

Khusus untuk di Jawa Timur, Gus Ipul pernah menjadi wakil gubernur selama 10 tahun. Walaupun sempat kalah dalam Pilkada 2018 yang lalu sebagai calon gubernur, namun hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki akar yang kuat di kalangan para kiai, tokoh-tokoh NU dan berbagai simpul masyarakat di Jawa Timur.

Bandingkan dengan akar politik dan organisasi Gus Yahya. Apakah dia pernah memimpin dan menjadi “top leader” pada organisai kemasyarakatan dan politik di Indonesia?

Ketokohan Gus Yahya Ditopang oleh Gus Ipul, Gus Yaqut, dan Nama Besar Gus Dur

Sebelum muncul sebagai calon Ketua Umum PBNU, hanya sedikit orang di lingkungan NU se-Indonesia yang mengenal Gus Yahya. Bahkan para Ketua PCNU se-Indonesia sebagian besar juga kurang mengenal sosok dan kiprah Gus Yahya di lingkungan NU.

Pada umumnya, para pimpinan NU di daerah di seluruh Indonesia mengenal Gus Yahya sebagai juru bicara Presiden Gus Dur, menjadi Katib Aam PBNU, Wantimpres Presiden RI Joko Widodo dan tokoh NU yang pernah berkunjung ke Israel.

Apabila sekarang ini ketokohan Gus Yahya melesat menjadi calon Ketua Umum PBNU hal itu disebabkan adanya topangan dari Gus Ipul dan Gus Yaqut Cholil Qoumas, Menag RI dan adik kandung Gus Yahya. Bukan karena semata-mata karena kapasitas dan kekuatan ketokohan personalnya.

Selain adanya topangan dari Gus Ipul dan Gus Yaqut, ada nama besar Gus Dur yang selalu disertakan dalam setiap langkah politik Gus Yahya pada jelang Muktamar ke-34 NU sekarang ini. Dalam bahasa awamnya, dia menjadi calon Ketum PBNU dengan menjual nama Gus Dur.

Apabila tidak ada topangan dari Gus Ipul dan Gus Yaqut (Ketua Umum PP GP Ansor dan Menag RI) serta tidak ada nama besar Gus Dur, maka tidak akan ada ceritanya Gus Yahya bisa muncul sebagai calon Ketua Umum PBNU. Artinya, ketokohan Gus Yahya sangat tergantung pada ketokohan Gus Ipul dan Gus Yaqut, serta dukungan dari keluarga Gus Dur.

Gus Ipul sebagai Calon Ketum PBNU, Kenapa Tidak?

Melihat secara objektif berbagai pengalaman, prestasi, reputasi, dan konstribusi Gus Ipul di semua lini yang pernah digelutinya, maka sudah sangat layak apabila Gus Ipul dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU. Dan Gus Ipul jauh lebih layak, lebih populer dan  akseptabel dibanding Gus Yahya sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Tidak ada hal yang tidak bisa berubah dalam politik. Dalam hitungan jam, menit atau detik, peta politik bisa berubah dan dirubah arahnya. Berbagai kemungkinan dan peluang masih cukup tersedia. Ada baiknya para pendukung Gus Yahya, terutama Gus Ipul untuk berpikir ulang tentang siapa yang sesungguhnya lebih layak untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU.

Sebagai alumnus GP Ansor yang pernah menjadi salah satu Ketua PP GP Ansor era Ketua Umum Gus Ipul, serta atas nama korsa GP Ansor, maka saya menutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Gus Ipul sebagai calon Ketua Umum PBNU, kenapa tidak?

*Penulis adalah alumnus PMII dan GP Ansor

Disclaimer: Tulisan opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Barometerjatim.com. Rubrik Opini terbuka untuk umum. Naskah dikirim ke [email protected] Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah substansinya.

» Baca Berita Terkait Muktamar NU

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -