Tak Ada Panggung Politik untuk Gus Ipul dan Khofifah

KADER NU: Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf saat hadir di acara peresmian kantor media nasional di Surabyaa. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bakal menggelar istighotsah kubro, Minggu (9/4), di tengah suhu panas dua kader NU, Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang disebut-sebut bakal maju di Pilgub Jatim 2018.

Untuk menjaga kemurnian istighotsah, panitia membatasi hanya dua tokoh NU yang diperkenankan naik panggung untuk memberi taushiyah dan amanah, yakni Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Tak ada panggung untuk Khofifah atau Gus Ipul maupun tokoh lainnya.

“Kalau Gus Ipul hadir, dia sebagai Wagub dan ketua PBNU. Khofifah juga begitu, dia sebagai Ketum Muslimat NU,” jelas Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah di kantor NU Jatim, Surabaya, Kamis (6/4).

Kiai Mutawakkil menjelaskan, pihaknya tidak menghalangi siapapun untuk hadir di istighotsah kubro, entah itu pimpinan partai politik atau orang yang diisukan bakal maju di Pilgub Jatim. “Tapi syaratnya datang harus pakai baju serba putih. Tidak boleh warna-warni. Tidak boleh pakai baju hijau, merah, kuning dan lainnya,” ucapnya.

• Baca: Respons Kondisi Bangsa, Kiai NU Gelar Istighotsah Kubro

Begitu pula dengan Khofifah dan Gus Ipul, harus mengenakan busana serba putih. “Jadi di acara nanti murni istighotsah dan doa bersama saja,” terang pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kraksaan, Probolinggo tersebut.

Apakah ada undangan secara khusus untuk pejabat negara atau tokoh nasional? “Hanya Rais Aam KH Ma’ruf Amin dan Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj yang menyampaikan amanahnya,” jawab ketua panitia, Achsanul Haq.

“Selebihnya istighotsah. Kalau ada pejabat dan tokoh partai mau datang, dipersilakan. Tapi hanya ikut istighotsah dan doa bersama saja.”

Karena itu, tambah Achsanul, tidak ada tokoh nasional, pejabat negara dan tokoh parpol yang diundang secara khusus. “Juga tidak disediakan kesempatan berpidato atau menyampaikan sambutan bagi tokoh di luar NU,” jelasnya.