Survei SSC: Masyarakat Jatim Tolak Calon Tunggal

TOLAK CALON TUNGGAL: Publik menolak calon tunggal karena tidak demokratis dan menunjukkan kegagalan dalam regenerasi kepemimpinan. | Grafis: Survei SSC

SURABAYA, Barometerjatim.com – Upaya penggiringan calon tunggal di Pilgub Jatim 2018 tak hanya mendapat penolakan dari sejumlah Parpol — khususnya Gerindra dan PKS — tapi juga masyarakat. Minimal jika mengacu hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) periode Juni 2017.

Dalam rilis hasil survei yang dilakukan SSC di salah satu hotel di Jl Jemursari, Surabaya, Rabu (12/7), mengungkapkan mayoritas publik menolak calon tunggal sebanyak 80,20 persen.

Penolakan didasari hal itu tidak demokratis dan menunjukkan kegagalan dalam regenerasi kepemimpinan. “Publik Jatim semakin kritis,” ujar Direktur SSC, Mochtar W Oetomo.

“Hal ini memperlihatkan bahwa publik Jatim semakin literate dalam politik, sekaligus perkembangan ini memperlihatkan kepada kita semua bahwa nilai-nilai demokrasi mulai diakomodir dalam perpolitikan Jatim.”

• Baca: ‘Banjir’ Kandidat, Propaganda Calon Tunggal Tak Relevan

Survei SSC ini diselenggarakan pada 10-30 Juni 2017 meliputi 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dengan metode multistage random sampling, mengambil 800 responden dengan margin of error 3,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Sebelumnya, upaya mengusung calon tunggal tak lagi sebatas wacana tapi sudah mengarah pada propaganda untuk memuluskan bakal pencalonan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang hampir pasti diusung PKB.

Sedihnya lagi, Gubernur Soekarwo, atas nama ketua DPD Partai Demokrat Jatim ikut-ikutan menjadi ‘bagian dari skenario’ yang justru bisa mencederai semangat demokrasi partisipatoris dalam konteks politik elektoral.

TAK RELEVAN: calon tunggal tidak relevan karena hasil beberapa lembaga survei justru memunculkan beberapa nama kandidat yang sangat kompetitif dengan dukungan publik cukup bersaing. | Grafis: Survei SSC

Dalih Soekarwo beberapa waktu lalu: Karakter politik di Jatim guyub, rukun dan santun. Karena semua kepentingan di Jatim bisa dibicarakan dengan baik-baik tanpa gontok-gontokan.

Namun CEO Lembaga Suvei The Initiative Institute, Airlangga Pribadi Kusman menegaskan wacana calon tunggal sebetulnya tidak relevan karena hasil beberapa lembaga survei justru memunculkan beberapa nama yang sangat kompetitif dengan dukungan publik cukup bersaing.

• Baca: Petinggi Golkar: Survei Tak Unggulkan Khofifah, Itu Palsu

Pilgub dalam konteks aklamasi atau calon tunggal, papar Airlangga, muncul ketika tidak ada calon lain yang bisa bersaing atau mendapat dukungan yang kuat. ”Tapi ini persaingannya sangat kuat,” katanya.

Justru bagi elit dan kekuatan Parpol yang menilik hasil beberapa lembaga survei serta masih komitmen mendengarkan suara rakyat, harus membuat kanal politik untuk memunculkan beragam calon. “Sehingga para calon favorit yang potensial mendapat saluran politik,” ujarnya.