Sadad: Lucu! NU Bersaing dengan Parpol Berebut Menteri

ANEH DAN LUCU!: Anwar Sadad, NU kok bersaing dengan parpol memperebutkan kursi menteri. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
ANEH DAN LUCU!: Anwar Sadad, NU kok bersaing dengan parpol memperebutkan kursi menteri. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Anwar Sadad heran dan nyesek melihat sejumlah pihak di struktural NU yang meributkan penunjukan Fachrul Razi sebagai Menteri Agama (Menag) dari non NU.

Padahal, Menag dari non NU sudah ada sejak zaman Bung Karno hingga Orde Baru. “Menag dengan background militer juga pernah kita miliki. So, what’s wrong?” katanya pada Barometerjatim.com di Surabaya, Jumat (25/10/2019).

Karena itu, Sadad mengajak sejumlah pihak di NU yang meributkan kursi Menag, untuk kembali pada orientasi politik kebangsaan. Hormat dan takzim kepada ulama sepuh yang mengawal NU di tahun-tahun yang berat, tahun-tahun yang menurut Nabi Muhammad Saw penuh tipuan (khadda’at).

Kecewakah Sadad melihat politik NU dibawa melenceng atau bahkan keluar dari rel kebangsaan? “Kalau dibilang kecewa, sebagai Nahdliyin ya pasti kecewa,” ucap pria yang masih keluarga Podok Pesantren (Ponpes) Sidogiri, Pasuruan itu.

Salah satu kekecewaan Sadad, yakni hilangnya tradisi bahwa di setiap pilihan dan sikap yang berdampak luas pada kebangsaan, NU selalu bersandar pada referensi agama, lebih spesifik lagi pada referensi fikih.

“Padahal pada banyak peristiwa kebangsaan sebelumnya yang penting, referensi itu selalu ada,” ujarnya.

Sadad mencontohkan penganugerahan gelar Ulil Amri kepada Bung Karno, kesediaan bekerja sama dalam Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunis), bahkan sampai penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal.

“Pernahkah karena pertimbangan politik semata? Tidak pernah!” tegas santri yang wakil ketua DPRD Jatim tersebut.

Sedihnya, dalam Pilpres 2019 referensi fikih itu tidak ada, tapi pertimbangannya pure politik. Padahal keterlibatan NU dalam Pilpres kali ini jauh lebih dalam dibandingkan pada Pilpres-Pilpres sebelumnya.

“Dan tiba-tiba di ujungnya, banyak pihak dalam tubuh NU menyuarakan kekecewannya secara lantang. Nyesek, kan?!” katanya.

Mengapa ini terjadi? Sadad menduga karena di dalam struktur NU ada infiltrasi orang-orang Parpol, yang menjalankan agenda Parpol di dalam NU, atau bahkan menjadikan NU sebagai tameng.

“Saya yakin kiai-kiai sepuh tahu hal ini, hanya karena sifat husnudzon (berprasangka baik) beliau-beliau mendiamkannya,” ujarnya.

Aneh dan lucunya lagi, NU harus bersaing dengan Parpol memperebutkan kursi menteri. Bahkan tak kalah lucu, NU harus bersaing dengan Parpol yang didirikannya sendiri dalam berebut kursi menteri.

“Kita semua tahu siapa yang menang? Benar-benar bikin sesak dada,” tandas Sadad yang juga sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim tersebut.

» Baca Berita Terkait NU, Jokowi