Senin, 04 Juli 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Pakar: Pejabat Tak Bisa Ikuti Visi Eri Cahyadi, Ya Harus Sadar Diri!

Berita Terkait

HARUS SADAR DIRI: Dian Anita Nuswantara, pejabat yang tidak bisa mengikuti Eri Cahyadi harus sadar diri. | Foto: IST
HARUS SADAR DIRI: Dian Anita Nuswantara, pejabat yang tidak bisa mengikuti Eri Cahyadi harus sadar diri. | Foto: IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Isu bakal adanya rotasi pejabat di tubuh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dinilai akademisi sebagai hal yang wajar. Sebagai wali kota, Eri Cahyadi membutuhkan tim yang solid, kompeten, punya visi teknologi, dan loyal.

“Rotasi di organisasi kan hal yang wajar. Wali kota punya visi, tentu dia memilih tim beranggotakan orang-orang yang dinilai mampu menerjemahkan visi tersebut,” kata Akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr Dian Anita Nuswantara, Jumat (17/12/2021).

“Ini sesuatu yang wajar, dalam upaya mewujudkan kebijakan publik yang selaras dengan visi wali kota,” tandas perempuan yang juga dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) tersebut.

Dian menyebut, saat ini tantangan birokrasi semakin kompleks seiring pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Selain dituntut lebih responsif, birokrasi juga harus memahami lanskap perubahan perilaku masyarakat akibat pandemi.

Perubahan perilaku itu terjadi mulai dari sisi ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Salah satu pendorong perubahan perilaku tersebut adalah aspek teknologi.

“Lanskap dunia sudah berubah, salah satunya karena teknologi. Saya melihat Pak Eri Cahyadi punya visi teknologi yang kuat, maka timnya harus mengikuti. Yang tidak bisa mengikuti, ya harus sadar diri,” ucapnya.

“Kadang-kadang ada sebagian orang yang merasa orang yang paling lama di dinas dan berhak menduduki suatu jabatan. Namun faktanya, dia tidak memiliki visi teknologi terbaru, dia juga tidak bisa membaca peta perubahan masyarakat yang butuh direspons cepat,” sambungnya.

Dian mencotohkan di era Wali Kota Tri Rismaharini, mungkin sudah ditata sedemikian rupa. Tapi setiap pemimpin memiliki tantangan zaman yang berbeda. Saat ini tantangannya adalah perubahan teknologi yang sangat cepat. Apalagi setelah adanya pandemi Covid-19, semua orang dipaksa untuk paham teknologi komunikasi.

Diukur Lewat Asesmen

Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan pejabat itu, kata Dian, adalah melalui asesmen. Sebab dalam asesmen sangat lengkap untuk mengetahui kompetensi, minat, dan bakat seseorang.

Apalagi bila konsep penilaian kinerja yang dipakai adalah 360 derajat, sebuah metode asesmen kinerja yang melibatkan atasan, rekan kerja, bawahan, sampai masyarakat.

“Dalam asesmen ada tes kemampuan dasar, ada tes wawacara, ada tes psikologi dan tes lainnya. Sehingga diketahui seseorang itu passion-nya dimana, kemampuannya apa dan keterampilannya bagaimana. Sebab kemampuan dan keterampilan itu dua hal berbeda,” jelasnya.

Menurut Dian, kemampuan diperoleh lewat pengalaman dan belajar, sedangkan keterampilan diperoleh melalui ketekunan. “Bagian administrasi, itu cukup memiliki keterampilan. Tapi jika bagian analisis perlu kemampuan dan keterampilan. Itulah fungsinya asesmen,” jelasnya.

Dan yang harus digarisbawahi, kata Dian, setiap ada perubahan struktur pasti akan dibarengi dengan pro dan kontra atau kekecewaan. Oleh karena itu, diperlukan keterbukaan dan komunikasi yang baik antara pimpinan dengan orang-orang yang akan diganti.

“Bagi saya, terjadinya dinamika organisasi itu sangat wajar. Kondisi itu berangsur-angsur akan hilang seiring dengan hasil kinerja yang positif,” pungkasnya.

» Baca Berita Terkait Pemkot Surabaya

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -