Mertua Berpulang, 2017 Jadi Tahun Kesedihan bagi Khofifah

TAHUN KESEDIHAN: Tahun ini menjadi tahun kesedihan bagi Mensos Khofifah Indar Parawansa setelah ditinggal orang-orang yang dicintai. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.comInnalillahi wa inna ilaihi rajiun. Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa berduka. Bapak mertuanya, H Djalaluddin Parawansa Karaeng Tojeng bin Mannagalli Karaeng Nyonri meninggal dunia. Almarhum wafat di usia 82 di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (13/5) pagi.

Khofifah menerima kabar duka tersebut saat berada di kediamannya Jemursari, Surabaya, sekitar pukul 07.30 WIB jelang melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Jombang untuk menghadiri pencairan Program Keluarga Harapan (PKH) non tunai serta acara PC Muslimat NU. Jumat (12/5) malam sebelumnya, Khofifah menghadiri acara Haul Agung Sunan Ampel di Jalan Pegirian.

Mendapat kabar bapak mertuanya wafat, Khofifah pun batal menghadiri acara di Jombang dan bertolak ke Makassar. “Ya, Bu Menteri batal hadir di Jombang dan ini akan bertolak ke Makassar,” terang Staf Khusus Mensos, Prof M Mas’ud Said PhD yang turut mendampingi Mensos ke Makassar.

• Baca: 30 Hari, 4 Kali Khofifah Blusukan dengan Motor

Menurut Mas’ud, Djalaluddin Parawansa merupakan keturunan Syeikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani (akrab dipanggil Syaikh Yusuf Al-Makassari) penyebar Islam kelahiran Goa, Sulawesi Selatan di Afrika Selatan (Afsel).

Syaikh Yusuf yang dimakamkan di Cape Town, Afsel mendapat gelar Pahlawan Nasional yang diberikan Presiden Soeharto pada 1995. “Nah, mertua Ibu Khofifah ini masih keturunan Syaikh Yusuf Al Makassari. Bapak Djalaluddin merupakan ayah dari suami Bu Khofifah, almarhum Pak Indar Parawansa,” terangnya.

KETURUNAN ULAMA BESAR: H Djalaluddin Parawansa bersama cucu-cucunya dalam satu kesempatan. Djalaluddin masih keturunan Syaikh Yusuf Al Makassari, penyebar Islam kelahiran Goa di Afrika Selatan. | Foto: Dok Keluarga

Guru Besar Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut menambahkan, tahun ini bisa dikatakan tahun kesedihan (‘aamul huzni) bagi Khofifah karena ditinggal sejumlah orang dekatnya.

Mulai dari guru spiritualnya, mantan Ketua Umum PBNU dua periode KH Hasyim Muzadi,  lalu mantan Ketua PP Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dan A’wan PBNU yang masih cucu mantu KH Bisri Syansuri, KH Aziz Masyhuri dan sekarang Djalaluddin Parawansa.

• Baca: Inilah Kesaksian Khofifah Sebelum Ustadz Ja’far Wafat

Duka juga dirasakan atas wafatnya Ustadz Ja’far Abdul Rachman ketika menjadi qori’ pada Peringatan Haul Almarhumin Keluarga Khofifah di Jemursari, 24 April lalu. Terlebih Khofifah menyaksikan langsung detik-detik sebelum Ustadz Ja’far menghembuskan napas terakhir.

“Bu Khofifah ini dekat sekali dengan Bapak Djalaluddin. Layaknya bapak dan anak kandung, bukan sebatas anak menantu,” kata Mas’ud.