Khofifah: Ternyata Kartini itu Seorang Ibu Nyai

KIAI DAN SANTRIWATI: Mbah Kiai Sholeh Darat dan RA Kartini, peran besar kiai dan santriwati yang masih terlupakan dalam bingkai sejarah. | Foto: Ist

KEDIRI, Barometerjatim.com – Banyak hal yang menunjukkan kehebatan RA Kartini, terutama terkait emansipasi wanita. Tapi banyak pula hal yang belum terungkap, salah satunya ternyata Kartini seorang ibu nyai. Benarkah?

Pernyataan itu diungkap Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa saat memberi ceramah agama di Pondok Pesantren Al Hikmah, Purwoasri, Kabupaten Kediri, Selasa (18/4) malam.

“Saya baru nonton film RA Kartini. Di film itu ternyata RA Kartini santrinya Mbah Kiai Sholeh Darat (KH Sholeh bin Umar As-Samarani, red). Kiai Sholeh ini gurunya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendidiri Muhammdiyah,” katanya.

Lantaran ada di film, Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU lantas melakukan penelusuran untuk mencari tahu kebenaran sejarah. Hasilnya: RA Kartini termasuk delapan santri yang cukup dekat dengan Kiai Sholeh Darat.

“Artinya RA Kartini itu mestinya juga ibu nyai (ulama perempuan),” tandas Khofifah. “Karena santrinya Kiai Sholeh Darat itu ada Mbah Hasyim Asy’ari, lalu Mbah Bisri Syansuri, KH Nahrowi Dalhar Watucongol, KH Ahmad Dahlan dan nomor delapan ternyata RA Kartini,” katanya.

• Baca: Libur Panjang, Khofifah Malah ‘Bergelut’ dengan Lumpur

Hanya saja, kata Khofifah, karena yang melukis gambar RA Kartini bukan santri, maka foto yang beredar saat ini tidak memakai kerundung. “Jadi ini pada persoalan siapa yang menggambar,” katanya.

Apa makna yang diambil Khofifah dari cerita penuh sajarah ini? Meski Nahdlatul Ulama berkontribusi besar dalam proses berdirinya NKRI, tapi karena bangunan keikhlasan yang luar biasa dari para kiai dan santri membuat sejarah terkait kontribusi besar mereka jarang ada yang berani menulis.

“Kalau berani menulis takut kualat, wong kiainya saja nggak ingin ditulis,” tandasnya. “Namun hari ini peran kita peran sosmed (sosial media), maka keberagaman dalam berbagai bidang sangat dibutuhkan kalangan pesantren,” tambahnya.