Kampus Harus Kreatif dan Sedikit Bonek

BERSAMA: Prof Joni Hermana (tiga dari kiri) berpose bersama wartawan yang meliput di ITS Surabaya. | FOTO: BAROMETERJATIM/AZIZ TRI P

DUNIA penelitian masih ‘terpinggirkan’ di kampus-kampus kita. Minimnya anggaran dan sulitnya mencari peneliti berkualitas, kerap jadi kendala. Lalu bagaimana solusinya? Berikut petikan wawancara dengan Rektor ITS Surabaya, Prof Joni Hermana, Senin (23/1).

Bagaimana Prof Joni menyoroti dunia penelitian di kampus-kampus di Indonesia saat ini?
Saya melihat kegiatan penelitian di perguruan tinggi kita sudah mulai bergairah. Terutama di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tapi masih jauh dari dikatakan ideal. Kendalanya terutama pada anggaran yang terbatas. Selain itu, kita juga kerap kesulitan untuk mencari stok tenaga peneliti yang berkualitas.

Soal anggaran penelitian yang minim, bisa dijelaskan detailnya?
Saya kasih contoh di ITS Surabaya. Anggaran peneltian yang disediakan ITS sendiri itu ada sekitar Rp 30 miliar. Kemudian dapat hibah dari Kemenristek Dikti prediksinya sekitar Rp 35 miliar. Berarti sekitar Rp 65 miliar. Satu lagi, ada kerjasama dengan industri. Untuk bidang penelitian, sekitar Rp 60 miliar. Jadi kalau kita total semua, ada dana penelitian sekitar Rp 125 miliar untuk satu tahun.

Jumlah anggaran penelitian Rp 125 miliar itu apa sudah memadai?
Itu memenuhi syarat sebagai PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, red). Karena aturan dari pemerintah, untuk PTN BH setidaknya total dana penelitian itu 10 persen dari anggaran yang dikelola. ITS ini mengelola anggaran kurang lebih Rp 1 triliun. Jadi kalau 10 persen untuk penelitian, Rp 100 miliar. Bisalah kita mencapai itu.

Tapi bagaimana posisi kita dibandingkan dengan universitas-universitas di negara lain?
Kalau disebut ideal ya memang masih jauh. Masih kurang dibanding negara-negara lain. Misalnya saja kita bandingkan dengan UTM di Malaysia (Universiti Teknologi Malaysia). Di UTM, dana penelitian tiap tahun hampir Rp 2 triliun. Memang waktu harga minyak turun, sempat turun juga anggaran penelitian di sana. Tapi masih sekitar Rp 1 triliun.

“Kita ini ibaratnya ‘bonek’. Dengan anggaran penelitian Rp 125 miliar, ingin bersaing dengan perguruan tinggi di Asia yang dana penelitiannya mencapai Rp 2 triliun per tahun.”

Bisa dibayangkan, kita ini ibaratnya ‘bonek’ (bondo nekat, red). Dengan anggaran Rp 125 miliar, ingin bersaing dengan perguruan tinggi di Asia yang dana penelitiannya mencapai triliunan rupiah. Ini memang gak masuk akal. Tapi daripada terus mengeluh, harus dicari cara yang kreatif dan sedikit ‘bonek’.

Apa yang Prof Joni sarankan untuk mencari solusi dari persoalan tersebut?
Kita memang dituntut harus kreatif. Pengembangan jejaring global menjadi salah satu kunci untuk penelitian bersama. Misalnya, setelah pembukaan ‘Community and Technological Camp’, kita kumpulkan semua kepala laboratorium. Ada sekitar 200 orang. Kita sampaikan peluang untuk kerja sama tersebut.

• Baca: Dikti Ubah Paradigma Dunia Penelitian

Jadi kita dengan Thailand, China, Jepang, Taiwan itu sudah ada agreement. Teknisnya, kita pergi ke sana dengan biaya sendiri, tapi di sana kita bisa memanfaatkan lab mereka yang lebih canggih. Bahkan sebagian sudah ada yang menyediakan akomodasinya, sehingga kita cuma bekerja meneliti saja. Nanti publikasinya bersama. Jadi nanti ada nama ITS dan universitas tempat kita meneliti.

Prof Joni Hermana | FOTO: BAROMETERJATIM/AZIZ TRI P

Peluang ini untuk ikut memanfaatkan laboratorium mereka yang lebih modern..
Ya. Saya kira ini peluang yang baik, karena seperti kita ketahui, di ITS ada beberapa peralatan yang sudah ketinggalan zaman. Diperoleh dari bantuan sekitar tahun 2000-an. Usianya sudah 16 tahunan. Sudah waktunya diganti. Tapi di sisi lain kita tidak cukup anggaran untuk menggantinya.

Jadi strategi kita, menggandeng universitas-universitas di luar negeri yang punya peralatan lebih canggih. Konsekuensinya kita kolaborasi dalam hal publikasi bersama. Saya pikir tidak masalah. Bahkan kemudian berkembang ada ide penelitian baru dan beberapa dosen kita malah mendapatkan kerjasama penelitian yang didanai oleh mereka.

Lalu bagaimana ITS mencoba memecahkan problem soal tenaga peneliti berkualitas?
Kita gratiskan SPP bagi lulusan S1 ITS yang berminat langsung melanjutkan ke jenjang S2 di ITS. Tentu saja ada syaratnya, IPK minimal 3. Kenapa kita gratiskan? Mereka secara otomatis kita masukkan ke dalam tim peneliti, dengan harapan menghasilkan penelitian yang bermutu.

Harus diakui, kualitas mereka bagus karena berasal dari siswa-siswa pintar yang lolos SNMPTN maupun SBMPTN. Daripada kita sulit cari peneliti yang berkualitas, mereka yang fresh graduate kita kasih tawaran melanjutkan S2 di ITS dan bebas SPP, sekaligus kita masukkan dalam tim peneliti. Itu solusi kita.

Penelitian selalu berkaitan dengan output berupa publikasi internasional. Berapa publikasi yang sudah dihasilkan ITS?
ITS ini tahun 2016, berhasil mempublikasi lebih dari 600 karya publikasi internasional yang ter-index scopus. Luar biasa. Jumlah 600 ini sekitar sepertiga dari jumlah total publikasi internasional yang dihasilkan sejak ITS berdiri. Targetnya tahun ini, dari 600 publikasi kita naikkan lagi menjadi 1.000 publikasi.

Persoalan bangsa kita kan, memang publikasi ilmiah yang sangat rendah. Bandingkan dengan UTM di Malaysia. Di sana, jumlah publikasi internasionalnya yang terindex scopus mencapai 15.000 publikasi. Di ITS, sejak berdiri hingga saat ini baru bisa menghasilkan 2018 publikasi internasional. Masih sangat jauh.