Kabag Humas Pemkot Surabaya: Tak Ada yang Usir Wartawan

KLARIFIKASI: Muhammad Fikser (depan kiri) saat memberikan klarifikasi terkait dugaan pengusiran wartawan. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP
KLARIFIKASI: Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser (depan kiri) memberikan klarifikasi. Tak ada yang mengusir wartawan. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

SURABAYA, Barometerjatim.com – Diberitakan mengusir wartawan televisi lokal yang hendak meliput kegiatan di kediaman Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser Mora angka bicara.

Dia menegaskan, sama sekali tidak ada pelarangan, apalagi pengusiran terhadap wartawan yang hendak meliput kegiatan wali kota. Sebagai Kabag Humas, dirinya mengaku memahami tugas-tugas jurnalistik.

“Oh ndak! Kita ndak pernah ada (mengusir wartawan), karena di situ ada banyak saksi. Kalau saya mengusir, dasar saya apa usir tugas jurnalistik,” katanya usai klarifikasi lewat konferensi pers di kantor Kabag Humas Pemkot Surabaya, Rabu (10/10).

• Baca: Gaji ke-13 Tak Kunjung Cair, Bambang DH: Risma Tak Peka

Menurut Fikser, wartawan bekerja sesuai dan dilindungi undang-undang (UU). “Sama halnya saya, kami bekerja juga dilindungi dengan UU kan? Nah, sama-sama saling menghargai,” katanya.

“Jadi saya tidak mengusir. Saya hanya menyampaikan secara pribadi, karena ada ketidaknyamanan pada narasumber utama (wali kota) dan saya menyampaikan itu karena tugas saya.”

Saat menyampaikan hal tersebut, wartawan yang mengaku diusir meminta Fikser agar menghubungi kantornya lalu disambungkan dengan pemimpin redaksi (Pemred).

• Baca: Abaikan Paripurna, Ulah Risma Bikin ‘Panas’ Anggota Dewan

“Yang bersangkutan menelepon Pemred, lalu diserahkan ke saya. Kemudian saya sampaikan alasannya kepada Pemred dan Pemred memahami,” katanya.

Karena itu, tandas Fikser, sama sekali tidak ada unsur mengusir, menghambat atau melarang pekerjaan jurnalistik,  karena di dalam ruangan tempat acara juga banyak wartawan yang meliput.

“Ini unsur tidak pada perusahaanya, tidak pada profesi jurnalistiknya, tapi pada unsur pribadi, personal, karena buktinya wartawan lain boleh ambil (meliput) kok. Kalau wartawan, media lain enggak boleh, mungkin berbeda ya,” paparnya.

• Baca: Ahistoris! Risma Didesak Batalkan Perubahan Nama Jalan

Lagi pula, kata Fikser, dirinya juga meminta secara baik-baik, tidak di ruang publik yang banyak orang. Bicara secara pribadi dengan bahasa minta tolong. Menurutnya, sudah jamak selama ini antara humas dan wartawan saling minta tolong.

“Ini sikap personal dan kalau saya ditanya ada apa? Ya saya harus ngomong, sebenarnya ada apa ke yang bersangkutan?” ucapnya.

Fikser mengaku sengaja diam dan baru hari ini memberi klarifikasi dengan mengundang seluruh wartawan yang sehari-sehari meliput di Pemkot, agar bisa bertanya langsung apa yang sebenarnya terjadi. Namun wartawan yang merasa diusir tak hadir.

• Baca: Persebaya Tak Punya Kandang Berlatih, BDH Sorot Pemkot

“Saya kira itu hak dia dan saya tetap melakukan konferensi pers ini, sebagai hak jawab saya terhadap semua yang bekembang saat ini,” katanya.

Sebelumnya, salah seorang wartawan televisi lokal mengaku dilarang Fikser meliput rangkaian acara Kirab Satu Negeri Ansor Surabaya di kediaman Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Senin (8/10) siang.