Imbas Corona, Pasien Takut Kemoterapi di RSUD dr Soetomo

RS DARURAT: Gubernur Khofifah tinjau rumah sakit darurat di halaman Puslitbang Humaniora Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
RS DARURAT: Gubernur Khofifah tinjau RS darurat di halaman Puslitbang Humaniora Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Penularan virus Corona (Covid-19) tak hanya membuat orang sehat ketakutan. Pasien terminal yang seharusnya menjalani perawatan rutin, seperti penderita kanker, sampai-sampai tidak berani datang ke rumah sakit (RS).

Hal itu dituturkan Direktur RSUD dr Soetomo Surabaya, dr Joni Wahyuhadi. Menurutnya, sebelum ada pandemi Corona, pasien yang datang ke RS milik Pemprov Jatim tersebut lebih banyak ketimbang kapasitas bed.

“Tapi hari-hari ini saya tidak tahu kemana pasien-pasien saya itu. Dulu pasien kemoterapi begitu antre, banyak sekali, tak pernah ada satu hari sela di bed pasien kemoterapi, tapi saat ini tidak ada,” ungkap Joni di Surabaya, Kamis (28/5/2020).

“Pasien kemoterapi tidak berani datang ke RS, padahal itu pasien-pasien terminal. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana penderitaan mereka, ruangannya kosong karena takut dengan Covid-19, tidak datang ke RS,” sambungnya.

Sebaliknya, pasien penderita Covid-19 yang terdeteksi di emergency dari hari ke hari terus naik. Rata-rata dalam sehari, pihak RSUD dr Soetomo harus menambah 10 bed.

“Ini dibuat untuk memberikan message buat kita semua, bahwa Covid-19 ini tidak main-main. Kami harus melakukan reassessment ruangan, merenovasi, yang dipergunakan untuk pasien Covid-19,” ujarnya.

Jika dulu RSUD dr Soetomo hanya memiliki sekitar 44 tempat tidur yang dikelola tim Pinere (Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging), sekarang sudah menjadi 153 bed.

“Dalam waktu dua bulan, ini pun selalu penuh, khususnya yang di 14 itu. 14 itu ruangan yang sangat intensif, kemudian yang 32 juga intensif untuk perawatan Covid-19,” jelasnya.

Sedangkan ruangan lainnya untuk yang moderat, karena pasien kategori ringan disediakan di RS darurat. “Tidak perlu ke Soetomo atau Soetomo merefer ke RS darurat, tapi kalau memberat ya kembali ke Soetomo,” papar Joni.

Dokter yang juga ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim itu berharap, langkah RSUD dr Soetomo ini diikuti RS lain dalam menangani pasien Covid-19.

“Tetapi langkah-langkah ini sampai kapan pun tidak akan pernah bisa mencukupi, kalau di hulunya (sumber penularan Covid-19) tetap mengalir deras,” tegasnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona, RSUD dr Soetomo