Selasa, 06 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Harga Cabai di Jatim Makin Pedas! Apa Strategi Khofifah untuk Mengatasinya?

Berita Terkait

MAKIN PEDAS: Khofifah tinjau harga cabai rawit merah dan merah besar di pasar tradisional. | Foto: IST
MAKIN PEDAS: Khofifah tinjau harga cabai rawit merah dan merah besar di pasar tradisional. | Foto: IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Harga cabai rawit merah di sejumlah kabupaten dan kota di Jatim makin pedas alias melonjak tajam. Data Siskaperbapo (Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Pokok) menunjukkan, per Selasa (7/6/2022) rata-rata Rp 84.823/Kg.

Harga ini berarti naik 241,48% (Rp 59.983) dibandingkan harga per 10 Mei 2022 sebesar Rp 24.840. Sedangkan untuk cabai merah besar harga rata-rata Rp 62.144 atau naik 78,58% (Rp 27.346) dibandingkan harga per 10 Mei 2022 Rp 34.798.

Mengapa harga cabai di Jatim melonjak tajam? Menurut Gubernur Khofifah Indar Parawansa, dari hasil pengamatan di lapangan dan koordinasi dengan Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) di Kabupaten Kediri, ada dua penyebab kenaikan harga cabai rawit.

Pertama, tingginya curah hujan yang menimbulkan serangan penyakit pada tanaman. Ini kemudian berdampak pada penurunan produksi dan jadwal tanam mengalami kemunduran.

“Di daerah dataran rendah, seharusnya penanaman cabai dilakukan April 2022. Namun karena curah hujan yang masih tinggi, akhirnya menyebabkan berkurangnya luas tanam,” katanya.

Penyebab kedua, kata Khofifah, yakni serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terhadap komoditas cabai. Pada periode April, terdapat empat serangan yakni hama lalat buah seluas 32,4 hektare, trips 15,55 hektare, dan kutu kebul 2,21 hektare.

Lalu penambahan serangan penyakit virus kuning seluas 34,03 hektare, Antraknose 12,31 hektare, bercak daun 8,4 hektare, dan layu fusarium 2,5 hektare.

Dua Strategi Berbeda 

NAIK TAJAM: Data Siskaperbapo, rata-rata kenaikan harga cabai Rp 84.823/Kg per Selasa (7/6/2022). | Grafis: Siskaperbapo
NAIK TAJAM: Data Siskaperbapo, rata-rata kenaikan harga cabai Rp 84.823/Kg per Selasa (7/6/2022). | Grafis: Siskaperbapo

Lantas, apa strategi Khofifah mengatasi masalah ini? Agar serangan OPT di beberapa lokasi sentra (daerah dataran tinggi) bisa dikendalikan, dia mengatakan bahwa Pemprov Jatim menggunakan Agens Pengendali Hayati (APH).

“Sekarang di beberapa lokasi sudah mulai tumbuh tunas baru, sehingga diharapkan dapat membantu ketersediaan cabai rawit jelang Idul Adha,” ujarnya.

Strategi berbeda diterapkan untuk mengatasi permasalahan komoditas cabai di daerah dataran rendah. Khofifah meminta untuk segera menanam cabai rawit menggunakan varietas genjah dengan usia panen 70-80 hari, yaitu varietas Bhaskoro dan Dewata.

“Ini diharapkan dapat mendukung ketersediaan cabai pada Juli utamanya menjelang Idul Adha,” ucap gubernur yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Meski demikian, Khofifah tetap optimistis bahwa upaya menurunkan harga cabai rawit dan harga cabai besar di Jatim dapat dilakukan.

Secara umum, katanya, kontribusi hortikultura strategis Jatim terhadap nasional untuk komoditas cabai besar senilai 9,4% atau menduduki urutan empat nasional. Sedangkan komoditas cabai rawit menyumbang 41,8% atau tertinggi secara nasional.

“Apalagi, potensi luas tanam komoditi cabai besar di Jatim pada 2021 mencapai 15.398 hektare dengan produksi mencapai 127.429 ton,” imbuhnya.

Lima kabupaten produsen cabai besar tertinggi 2021 di Jatim yakni Kabupaten Malang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Probolinggo.

» Baca berita terkait Pemprov Jatim. Baca juga tulisan terukur lainnya Abdillah HR.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -