Gerindra Sindir JKSN: Kiai Berpolitik Praktis Ditinggal Umat

KIAI BERPOLITIK NILAI: Anwar Sadad, kiai berpolitik nilai. Bukan politik elektoral, politik sempit, politik dukung mendukung. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
KIAI BERPOLITIK NILAI: Anwar Sadad, kiai berpolitik nilai. Bukan politik elektoral, politik sempit, politik dukung mendukung. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tekad Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) ‘menyapu bersih’ suara Nahdliyin — karena di dalamnya diklaim berkekuatan kiai NU kultural — untuk Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019, dinilai kubu Prabowo-Sandiaga sebagai klaim yang justru menjauhkan kiai dengan umat.

“Saya ndak mau ikut-ikutan Pak Asep (KH Asep Saifuddin Chalim, Dewan Penasihat JKSN). Saya tidak mau latah seperti ngikutin Pak Asep untuk mengklaim (dukungan) kiai ke Prabowo,” kata Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad, Jumat (28/9).

Menurut Sadad, para kiai tidak bisa digeneralisasikan pada satu calon tertentu. Meski para kiai berpolitik, tetapi bukan politik elektoral, bukan politik sempit, bukan politik dukung mendukung.

• Baca: Gerindra: Pilpres 2019 Kompetisi Elite Lawan Akar Rumput

“Tetapi politik nilai, politik kebangsaan, bukan politik praktis!” tegas politikus yang juga Ketua Dewan Pakar IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) itu.

Kalaupun ada yang mengklaim dukungan politik secara praktis, Sadad tidak yakin klaim itu akan diikuti umat. Malah yang terjadi sebaliknya: Umat akan kehilangan respek pada kiai tersebut.

“Ketika ada yang mengklaim pada kandidat tertentu, 1.000 persen saya tidak yakin akan diikuti umat,” kata wakil sekretaris PCNU Kabupaten Pasuruan periode 2000-2001 tersebut.

• Baca: Sadad: Kader NU di Gerindra Tak Perlu Dukung Kiai Ma’ruf

Sebab, terang Sadad, “Perspektif umat terhadap kiai pasti yang diperjuangkan politik nilai. Nilai kebangsaan dan nilai keislaman. Paling bater mengarahkan pilihlah ke calon yang perhatian pada urusan umat Islam.”

Dan sudah seharusnya, tambah Sadad, kiai berpolitik dengan mengarahkan pilihan pada calon yang concern urusan keumatan dengan menggunakan dasar kaidah fiqih dan hadits.

“Para ulama itu selalu nilai yang disampaikan, bukan praktis. Sepanjang kiai berpolitik menggunakan perspektif politik nilai, maka suaranya akan menjadi panutan umat,” ucapnya.

‘Sapu Bersih’ Nahdliyin

Sebelumnya, saat acara dukungan JKSN untuk Jokowi-Kiai Ma’ruf di Surabaya, Jumat (21/9) lalu, Kiai Asep menyebut jaringan yang di dalamnya juga para kiai NU kultural ini, akan ‘menyapu bersih’ suara warga NU untuk Jokowi-Kiai Ma’ruf.

“Sebagai Nahdliyin, JKSN ini lebih pada bagaimana menyapu bersih Nahdliyin jangan sampai ada yang tertinggal tidak memilih Pak Jokowi-Kiai Ma’ruf,” katanya.

Bahkan, Kiai Asep menjanjikan minimal 44 juta suara akan disumbangkan JKSN ke Jokowi-Kiai Ma’rif di Pilpres 2019. Angka itu hanya dari dirinya dan Dewan Pengarah JKSN, Khofifah Indar Parawansa.

• Baca: ‘Kado’ 44 Juta Suara dari Khofifah-Kiai Asep untuk Jokowi

Hitung-hitungan awal, kata Kiai Asep, selain Gubernur Jatim terpilih, Khofifah adalah ketua umum PP Muslimat NU dengan anggota lebih dari 32 juta yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sedangkan Kiai Asep mengklaim memiliki 12 juta pengikut setia di Indonesia. Selain pengasuh Ponpes Amantul Ummah di Mojokerto dan Surabaya, Kiai Asep tercatat sebagai ketua umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) yang memiliki 34 pengurus wilayah dan 470 cabang di Indonesia.