Gagal Masuk TNI, Eh.. Khofifah Malah Jadi Menteri

LAYAKNYA IBU-ANAK: Mensos Khofifah Indar Parawansa bersama anak-anak Desa Sukolilo di Gubuk Baca Lepen Sabin. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

MALANG, Barometerjatim.com – Banyak hal ‘heboh’ dan inspiring dari masa lalu Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa. Salah satunya, menteri enerjik yang suka blusukan itu pernah mendaftar menjadi anggota TNI namun gagal gara-gara terganjal tinggi badan.

“Dulu saya pernah daftar menjadi Kowad (Korps Wanita TNI Angkatan Darat). Tapi saya gagal masuk gara-gara tinggi badan kurang satu sentimeter,” katanya saat mengunjungi Gubuk Baca Lepen Sabin di Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Minggu (12/3) sore.

“Saya daftarnya di Malang waktu itu. Nggak bisa jadi anggota TNI, eh.. akhirnya malah jadi menteri,” selorohnya yang disambut tawa dan aplaus hadirin.

Kehadiran Khofifah di Desa Sukolilo mendapat sambutan hangat dari warga desa. Mereka tak henti-hentinya mengelu-elukan perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU tersebut, karena bersedia mengunjungi gubuk baca yang ‘mewah’ alias mepet sawah.

• Baca: Pesona Pedesaan Bertabur Ratusan Juta Rupiah per Bulan

Dalam sambutannya, Khofifah mengajak orang tua dan anak-anak di Desa Sukolilo agar tak berkecil hati dalam menggapai cita-cita yang tinggi, karena banyak orang hebat lahir dari keluarga petani.

Dia mencontohkan James Earl Carter, Presiden ke-39 Amerika Serikat penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 2002 yang anak petani.

“Mudah-mudahan dari tempat ‘sangat mewah’ ini, karena anak-anak rajin membaca, belajar, sekolahnya sukses, bisa menjadi anak saleh-salihan dan sukses mengejar cita-citanya,” paparnya.

“Di sini hadir para profesor, ada Prof Masykuri (Rektor Unisma Malang), Prof Masud Said (Stafsus Mensos). Ini adalah inspirasi untuk anak-anak warga Sukolilo. Mudah-mudahan sukses seperti mereka,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga memberikan sumbangan untuk menambah koleksi bacaan di gubuk baca.

Tak sekadar menyumbang, dia juga mengajak para undangan yang hadir melakukan ‘saweran’. Alhasil, Stafsus Mensos sampai direktur di Kementerian Sosial ikut merogoh sakunya untuk ramai-ramai menyumbang.