Gaduh Cabut Dukungan, FK3 Balik Arah Minta Maaf ke Kelana!

MINTA MAAF: Sempat mencabut dukungan, Haris Nukman (tengah), minta maaf kepada Kelana Aprilianto. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
MINTA MAAF: Sempat mencabut dukungan, Haris Nukman (tengah), minta maaf kepada Kelana Aprilianto. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Sempat gaduh mencabut dukungan, Koordinator Forum Komunikasi Kiai Kampung (FK3) Sidoarjo, Haris Nukman balik arah: Meminta maaf secara terbuka kepada pasangan Cabup-Cawabup nomor urut tiga, Kelana Aprilianto-Dwi Astutik.

“Saya Haris Nukman. Dengan ini saya menyatakan, bahwa saya kemarin membacakan rilis tentang Forum Komunikasi Kiai Kampung. Dan saya mohon maaf, ini atas ketidaktahuan saya sebenarnya, bagaimana sebenarnya komunikasi antara Forum Komunikasi Kiai Kampung ini dengan Pak Kelana,” katanya.

“Untuk itu, saya mohon maaf kepada Bapak Kelana dan tentu kepada seluruh masyarakat Sidoarjo atas tindakan yang telah saya lakukan. Demikin pernyataan yang bisa saya sampaikan, terima kasih,” sambungnya.

Pernyataan Haris tersebut disampaikan usai acara silaturahmi Tim Bintang Sembilan Berkelas bersama kiai kampung, tokoh masyarakat, dan warga Nahdlatul Ulama (NU) Balongbendo, Sidoarjo, Selasa (20/10/2020) sore.

Sebelumnya, Haris membacakan pernyataan FK3 Sidoarjo terkait pencabutan dukungannya kepada Kelana-Astutik di Rumah Makan Asap-Asap, Taman Pinang, Senin (19/10/2020).

Menurut Haris, pencabutan didasarkan pada terputusnya komunikasi antara FK3 dengan Kelana, yang dinilai tidak menindaklanjuti program-program kesejahteraan FK3 yang pernah disepakati dalam deklarasi di Fave Hotel Sidoarjo, 8 Maret 2020.

Apakah pencabutan dukungan tersebut  paksaan dari pihak tertentu? “Ehm, saya memang tidak tahu, sejauh mana komunikasinya FK3 itu dengan Pak Kelana, jadi saya tidak tahu memang. Apa yang saya lakukan, ya wis.. ” ujarnya.

Jadi cuma ikut-ikutan, bukankah anda koordinator? “Saya memang tidak tahu ya,” elaknya, termasuk saat ditanya apakah 12 orang lainnya ada yang mengerahkan, inisiatif sendiri, atau dalam koordinasi FK3.

“Ya memang teman-teman dari beberapa kecamatan dan itu ya memang.. ya tidak tahu ya,” katanya.

Kalau tidak tahu, berarti ada yang memerintah? “Kita kan memang ada organisasinya, tapi kami memang enggak tahu sejauh mana komunikasinya Pak Kelana dengan teman-teman kiai kampung ini,” ucapnya.

“Tapi itu, ya kemarin itu kita minta maaf kepada warga, masyarakat, dan tentu kepada Pak Kelana, bahwa itu kesalahan kami,” imbuhnya.

Haris menambahkan, klarifikasi ini sekaligus pembatalan pencabutan dukungan FK3 terhadap Kelana-Astutik. “Sekarang masih seperti itu (masih mendukung). Dengan pernyataan minta maaf saya, berarti itu (pernyataan pencabutan dianggap tidak ada,” katanya.

Selain itu, Haris memastikan bahwa tidak ada yang membuatkan naskah dalam pernyataan pencabutan. “Itu oret-oretan sendiri saja karena ketidaktahuan kami saat itu. Yang bikin saya, bukan suruhan orang lain,” ujarnya.

Pilih Berjiwa Besar

BERJIWA BESAR: Haji Masnuh, berjiwa besar memaafkan Forum Komunikasi Kiai Kampung (FK3). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BERJIWA BESAR: Haji Masnuh, berjiwa besar memaafkan Forum Komunikasi Kiai Kampung (FK3). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Sementara Ketua Tim Pemenangan Kelana-Astutik, Haji Masnuh menyesalkan langkah Haris yang mengatasnamakan kiai kampung, karena kiai kiai kampung jumlahnya banyak dan tidak cukup hanya diwakili 12 orang.

“Ini tanpa berpikir panjang, menamakan dirinya kelompok kiai kampung. Saya sendiri tidak jelas, ini kiaikampung yang mana. Komunitas kiai kampung itu ada, tapi tidak semacan ini,” katanya.

Soal pengakuan Harus bahwa pernyataan ini atas inisiatifnya sendiri, menurut Masnuh, itu kesalahan besar. Meski demikian, karena sudah tabayyun dan minta maaf, pihak Kelana-Astutik menegaskan persoalan ini sudah selesai.

“Mereka sudah minta maaf, ya harus kita maafkan, tapi jangan diulangi lagi. Kalau sampai diulangi lagi, ini kan bisa pencemaran nama baik paslon dan pendukungnya,” ujar Masnuh.

Apakah tim Kelana-Astutik sudah melakukan langkah hukum terkait pernyataan Haris? “Belum, kita mengklarifikasi dulu, kita pakai bahasa NU, tabayyun. Kalau memang sudah bisa diselasaikan ya sudah, untuk apa kita sampai ke ranah hukum,” tandasnya.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo